Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. (Anadolu Agency)
Iran Sebut Negara Lain Tak Bisa Jual Minyak jika Ekspor Teheran Diblokade AS
Muhammad Reyhansyah • 30 September 2026 12:49
Teheran: Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa tidak ada negara di kawasan yang dapat menjual minyak jika Iran dicegah melakukan hal serupa.
“Amerika Serikat dan negara-negara lain harus tahu, seperti yang telah kami katakan, bahwa di kawasan di mana kami tidak dapat menjual minyak, tidak ada seorang pun yang akan menjual minyak,” kata Ghalibaf, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Iran, IRNA, Selasa, 29 September 2026.
Mengutip TRT World, peringatan tersebut disampaikan ketika Iran menghadapi pembatasan berat terhadap ekspor minyak di tengah konflik dengan Washington dan sanksi AS.
Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan pada Agustus bahwa ekspor minyak Iran telah turun menjadi nol. Menurutnya, Teheran tidak lagi mengekspor minyak mentah akibat perang dan sanksi.
Sementara itu, militer AS mengatakan pada 19 September bahwa lebih dari 1 miliar barel minyak mentah telah melewati Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir dengan bantuan militer AS. Washington juga menyatakan Iran telah mengekspor “nol barel” minyak di bawah apa yang disebut AS sebagai “blokade ketat."
“Jika keamanan kami tidak dijamin, tidak ada infrastruktur yang akan aman,” kata Ghalibaf.
AS Tolak Proposal Iran
Awal bulan ini, Ghalibaf memperingatkan infrastruktur dan aset energi AS di sekitar Teluk dan Selat Hormuz dapat menjadi sasaran pembalasan Iran jika Washington menyerang fasilitas minyak dan gas Iran.Ghalibaf juga menyinggung pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump mengenai Selat Hormuz dan pelayaran kapal di jalur tersebut. Menurutnya, pernyataan Trump mengulang klaim AS sebelumnya.
Trump pada Sabtu menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial normal dalam waktu tujuh hari. Trump menyebut persyaratan Iran tidak dapat diterima dan mengklaim Washington telah memiliki “kendali penuh” atas jalur tersebut.
Dalam proposal Teheran, Washington diminta membebaskan aset Iran yang dibekukan, mencabut sanksi minyak, dan mengakhiri blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran.
Setelah itu, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dan pembicaraan mengenai kesepakatan final akan dimulai.
Iran hingga kini mempertahankan pembatasan terhadap Selat Hormuz sambil menuntut Washington memenuhi komitmen berdasarkan memorandum kesepahaman yang dicapai pada Juni.
Iran mengatakan jalur tersebut tidak akan sepenuhnya dibuka sampai persyaratan Teheran dipenuhi dan komitmen AS dilaksanakan.
Pada Senin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan mediator Qatar akan menyampaikan kepada AS gagasan baru yang telah dibahas dengan Teheran mengenai cara memenuhi persyaratan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Iran Ancam Balasan Cepat
Ghalibaf juga memperingatkan Washington agar tidak meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Ia mengatakan Iran tidak akan mundur menghadapi apa yang disebutnya “blokade udara maupun komersial”.“Para pemimpin Gedung Putih harus tahu bahwa Iran, bangsa bijaksana yang telah mencatat sejarah, tidak akan pernah mundur hanya karena garis-garis ditarik, pidato disampaikan, atau blokade udara maupun komersial diberlakukan,” kata Ghalibaf.
Februari lalu, AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran. Iran kemudian merespons dengan serangan terhadap Israel dan target AS di kawasan sebelum kesepakatan gencatan senjata dicapai pada April.
Washington dan Teheran kemudian menandatangani memorandum kesepahaman pada Juni terkait kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Namun, implementasinya terhenti akibat perbedaan mengenai keamanan di jalur strategis tersebut, sementara ketegangan kedua pihak terus meningkat.
Baca juga: AS Disebut Siap Lepas Dana Iran jika Ada Kemajuan Program Nuklir