Meski Harga Minyak Dunia USD107, ESDM Pastikan Pertalite tak Naik

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung. Foto: Metro TV/Rona Marina Nisaasari.

Meski Harga Minyak Dunia USD107, ESDM Pastikan Pertalite tak Naik

Eko Nordiansyah • 29 September 2026 13:48

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti pertalite dan biosolar tidak naik meskipun harga minyak dunia tembus USD107 per barel.

“Kalau untuk pertalite, yang disampaikan sama Pak Menteri (ESDM Bahlil Lahadalia), sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan ini tidak ada kenaikan untuk pertalite, untuk BBM bersubsidi,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika ditemui setelah acara ziarah di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 29 September 2026.

Akan tetapi, tutur dia melanjutkan, untuk harga BBM nonsubsidi akan mengalami penyesuaian sebab mengikuti harga pasar.

Adapun penyesuaian untuk BBM nonsubsidi tersebut akan mengikuti harga rata-rata minyak dunia dalam satu bulan.

“Jadi ini kami melihat rata-rata dalam satu bulan itu kira-kira berapa, penyesuaiannya kira-kira berapa,” ucap Yuliot.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Lonjakan harga minyak dunia

Pernyataan tersebut terkait dengan harga minyak dunia yang kian meroket akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Yuliot mengungkapkan harga minyak dunia sempat menyentuh USD107 per barel pada akhir September 2026.

Angka tersebut menunjukkan tren kenaikan setelah sempat melandai pada Juni-Juli.

Purbaya Yudhi Sadewa ketika masih menjabat sebagai Menteri Keuangan menjamin defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali hingga akhir tahun dengan asumsi makro rata-rata harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) berada di level USD100.

Berdasarkan perhitungan Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti, rata-rata ICP Januari–September sekitar USD90,6 per barel.

Kebut eksplorasi migas

Merespons kondisi tersebut, Yuliot memastikan akan melakukan percepatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi (migas) di tengah gejolak geopolitik yang menyebabkan meroketnya harga minyak dunia.

Yuliot menyampaikan pemerintah telah memetakan sejumlah lapangan migas dengan potensi produksi sekitar 2.500-3.000 barel per hari yang akan digenjot prosesnya pada 2027 dan 2028.

Dengan demikian, lanjut dia, pemerintah dapat segera merealisasikan target satu juta barel minyak per hari pada 2029-2030 untuk mewujudkan swasembada energi nasional.

“Eksplorasi dan eksploitasi ini kami akan genjot pada 2027 dan 2028 sehingga target kita satu juta barel itu bisa tercapai,” kata Yuliot.

(Eko Nordiansyah)