Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bersama Direktur Jenderal Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah bertemu Co-Founder sekaligus CEO Roblox, David Baszucki, di Silicon Valley, Amerika Serikat. Dok. Istimewa.
Komdigi Dorong Platform Game Online Perkuat Perlindungan Anak dan Patuhi PP Tunas
Achmad Zulfikar Fazli • 7 October 2026 17:51
Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong platform game online memperkuat perlindungan anak, meningkatkan verifikasi usia, dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi Indonesia. Hal ini disampaikan menyusul pertemuan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dengan Co-Founder sekaligus CEO Roblox David Baszucki di Silicon Valley, Amerika Serikat, pada 22 September 2026.
Pertemuan tersebut menegaskan perkembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab dalam menciptakan ruang digital yang aman, khususnya bagi anak-anak. Salah satu isu utama yang dibahas adalah kepatuhan Roblox terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan seluruh platform digital global yang beroperasi dan memberikan layanan kepada masyarakat Indonesia wajib mengikuti ketentuan yang berlaku.
“Platform global boleh beroperasi di mana saja. Namun, ketika hadir dan melayani masyarakat Indonesia, standar dan aturan Indonesia harus dipenuhi. Aturan Indonesia berlaku bagi semua platform yang beroperasi di Indonesia, tanpa terkecuali,” ujar Meutya dalam keterangannya dikutip pada Rabu, 7 Oktober 2026.
![]()
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid (kedua dari kiri) bersama Co-Founder sekaligus CEO Roblox David Baszucki (kedua dari kanan), Direktur Jenderal Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah (paling kanan) di Silicon Valley, Amerika Serikat. Dok. Istimewa
Pemerintah mengapresiasi sejumlah langkah yang telah dilakukan Roblox, seperti penerapan facial age estimation, pembatasan fitur komunikasi bagi pengguna anak, serta pengembangan Roblox Kids dan Roblox Select.
“Verifikasi usia masih perlu diperkuat. Perlindungan terhadap pengguna di bawah usia 16 tahun juga membutuhkan perhatian serius, termasuk pembatasan interaksi anak dengan orang yang tidak dikenal serta pencegahan perpindahan komunikasi berisiko ke luar platform,” ujar Meutya.
Dorong Safety by Design
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menekankan pentingnya penerapan prinsip safety by design dalam pengembangan platform digital.
Menurut dia, aspek keamanan seharusnya sudah menjadi bagian dari proses perancangan produk maupun fitur sejak awal, bukan baru diperhatikan setelah terjadi persoalan.
Dalam konteks Roblox, penerapan safety by design antara lain dapat dilakukan melalui penguatan pembatasan interaksi anak dengan orang yang tidak dikenal, pencegahan perpindahan komunikasi ke kanal yang lebih sulit diawasi, serta pembangunan sistem yang mampu mengenali dan menghentikan perilaku berisiko sedini mungkin.
Indonesia Bukan Sekadar Pasar
Edwin mengatakan pemerintah juga ingin mendorong posisi Indonesia agar tidak hanya dipandang sebagai pasar bagi perusahaan teknologi global. Dalam pertemuan itu, pemerintah mendorong Roblox memperkuat kehadirannya di Indonesia, termasuk melalui kemungkinan penempatan pimpinan senior maupun pembukaan kantor di Jakarta.
Co-Founder sekaligus CEO Roblox David Baszucki menyatakan perusahaan terus melakukan penyesuaian terhadap produknya agar sesuai dengan regulasi Indonesia.
“Kami terus berupaya menyesuaikan produk kami agar sesuai dengan regulasi di Indonesia,” kata Baszucki.
Pemerintah selanjutnya meminta agar pelaksanaan PP TUNAS dapat dilaporkan secara rutin, terukur, dan transparan sehingga perkembangan penyesuaian fitur dan penguatan perlindungan anak dapat dievaluasi secara berkala.
Inovasi Membutuhkan Kepercayaan
Edwin mengatakan inovasi dan regulasi tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang saling bertentangan.
Menurut dia, inovasi justru membutuhkan kepercayaan. Orang tua perlu merasa yakin platform yang digunakan anak memiliki perlindungan yang memadai, sementara industri membutuhkan kepastian regulasi agar dapat terus berinovasi dan berinvestasi.
“Anak-anak Indonesia harus tetap memiliki ruang untuk bermain, belajar, berkreasi, dan mengenal teknologi. Tantangannya adalah memastikan ruang tersebut memiliki perlindungan yang sesuai dengan usia dan kerentanan mereka,” ujar Edwin.