PBB Dinilai Belum Cukup Tegas Merespons Genosida di Gaza

Pelapor khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese. Foto: Metrotvnews.com

PBB Dinilai Belum Cukup Tegas Merespons Genosida di Gaza

Muhammad Reyhansyah • 22 October 2026 07:54

Jakarta: Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967, Francesca Albanese, menilai PBB belum cukup kuat dan vokal dalam merespons genosida di Gaza. 

Ia menyebut kondisi tersebut mencerminkan krisis multilateralisme yang semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

“Apakah saya menilai PBB telah bertindak tegas dan bersuara lantang selama genosida ini? Tidak,” kata Albanese dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Albanese mengatakan kritiknya berangkat dari pendekatan terhadap hukum internasional dan upaya dekolonisasi sistem multilateral. Menurut dia, PBB semakin terpinggirkan dalam beberapa tahun terakhir, bukan hanya dalam persoalan Palestina.

“Saya menilai bahwa dalam beberapa tahun terakhir, bukan hanya di Palestina, PBB telah semakin terpinggirkan. Dan ini mencerminkan krisis multilateralisme,” ujar Albanese.

Ia menilai krisis tersebut juga berkaitan dengan peran negara-negara Barat dalam tatanan internasional. Menurut Albanese, negara-negara Barat selama ini kerap menempatkan diri pada posisi moral yang lebih tinggi dengan menyuarakan dan mengajarkan prinsip-prinsip hak asasi manusia.

Namun, ia menilai situasi Gaza menjadi ujian besar bagi sistem tersebut. “Gaza telah menjadi batu sandungan yang memperlihatkan bagaimana seluruh sistem itu runtuh,” kata Albanese.

Albanese menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembaruan sistem multilateral yang tidak lagi mempertahankan pola hubungan internasional yang timpang. Ia mendorong terbentuknya multilateralisme baru yang lebih inklusif dan melalui proses dekolonisasi.

“Kita membutuhkan multilateralisme yang diperbarui, multilateralisme yang didekolonisasi,” ujar Albanese.

Dalam sistem tersebut, Albanese menilai prinsip-prinsip yang diperjuangkan negara-negara Global South, atau yang ia sebut sebagai global majority, semakin dibutuhkan. Ia menekankan pentingnya nilai-nilai yang mengakui kemanusiaan serta keterhubungan antarmanusia dalam menghadapi persoalan global.

Salah satu prinsip yang ia soroti adalah Ubuntu, yang berasal dari pengalaman dekolonisasi Afrika Selatan. Albanese menjelaskan prinsip tersebut menekankan pengakuan terhadap kemanusiaan dan keterhubungan antarmanusia.

“Pertama-tama, ini adalah pengakuan terhadap kemanusiaan dalam bentuknya yang paling murni: saya ada karena kamu ada,” kata Albanese, menjelaskan prinsip Ubuntu.

Selain itu, Albanese juga menyoroti hubungan antara lingkungan dan masyarakat adat, yang menurutnya tercermin dalam perjuangan keadilan di Amerika Latin dan berbagai wilayah lainnya. 

Ia menilai prinsip-prinsip tersebut dapat menjadi bagian dari landasan multilateralisme yang lebih berkeadilan.

(Fajar Nugraha)