Menteri Agama Nasaruddin Umar (Foto:Dok.MetroTV)
Ramadan di Masjid Al-Ikhlas PIK: Menag Ungkap Ciri Puasa yang Diterima Allah SWT
Rosa Anggreati • 26 February 2026 09:46
Jakarta: Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, termasuk memperdalam makna puasa. Dalam tausiyahnya di Masjid Al-Ikhlas PIK, Jakarta Utara, Menteri Agama (Menag) sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menegaskan bahwa puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi harus menjadi jalan menuju ketakwaan yang hakiki.
Menurutnya, banyak orang berpuasa hanya pada tataran formalitas. “Betapa banyak orang berpuasa, tidak ada yang diperoleh kecuali lapar dan dahaga,” ujar Menag mengingatkan hadis Rasulullah SAW tentang pentingnya kualitas puasa.
3 Level Puasa Menurut Imam Al-Ghazali
Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, Menag Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa puasa terbagi menjadi tiga tingkatan.
Pertama, puasa orang awam. Ini adalah puasa yang hanya menahan makan, minum, dan hubungan suami istri. Secara fikih sah, tetapi belum menyentuh dimensi batin.
Kedua, puasa khawas. Pada level ini, seseorang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga mata dari pandangan haram, telinga dari gosip, lisan dari fitnah, serta tangan dan kaki dari perbuatan maksiat.
“Mulut ini paling sering membatalkan pahala puasa. Banyak orang terjatuh karena lisannya, karena fitnah, ejekan, dan kebohongan,” ucap Menag Nasaruddin.
Ketiga, puasa khawasul khawas. Ini adalah tingkatan tertinggi. Bukan hanya anggota tubuh yang berpuasa, tetapi juga pikiran dan hati. Seorang yang berada pada level ini menjaga diri dari prasangka buruk, iri hati, riya, hingga keinginan untuk dipuji.
Baca Juga :
Khazanah Islam di Masjid Al-Ikhlas PIK: Menag Nasaruddin Ungkap Keistimewaan Ramadan dan Lailatul Qadar
Bahaya Riya dan Haus Pujian
Dalam ceramahnya, Menag Nasaruddin Umar juga menyoroti bahaya riya dan kecenderungan manusia ingin dipuji. Ia menegaskan bahwa amal yang dipamerkan justru dapat mengurangi nilai pahala.
“Amal yang makin disembunyikan, makin utuh pahalanya. Tapi makin dipamerkan, makin habis pahalanya,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan agar umat Islam tidak sekadar menjadi “selebriti bumi,” tetapi menjadi “selebriti langit” yang dikenal oleh para malaikat karena keikhlasan ibadahnya, meski tidak populer di hadapan manusia.
“Buat apa dikenal di bumi, tapi tidak dikenal di langit?” kata Menag.
Output Puasa: Upgrade Keimanan dan Ketakwaan
Lebih jauh, Menag menjelaskan bahwa tujuan utama puasa Ramadan adalah meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Puasa, kata dia, harus menjadi sarana “upgrade spiritual” yang membuat seseorang lebih dekat dengan Allah SWT.
“Kalau sebelum Ramadan dan sesudah Ramadan tidak ada perubahan, berarti puasa kita belum menghasilkan apa-apa,” ujarnya.
Ciri puasa yang berhasil terlihat dari perubahan sikap. Wajah lebih teduh, lisan lebih terjaga, langkah lebih sering menuju masjid daripada pusat perbelanjaan, serta hati yang lebih mudah memaafkan.
Menag menekankan bahwa takwa adalah puncak dari seluruh proses ibadah. Tidak semua Muslim otomatis mencapai derajat takwa. Puasa adalah latihan spiritual untuk naik kelas, yaitu dari Muslim, menjadi mukmin, lalu muhsin, hingga mencapai derajat muttaqin.
Puasa dan Penyucian Jiwa
Dalam sesi tanya jawab, Menag Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa puasa juga merupakan proses "tazkiyatun nafs" atau penyucian jiwa. Manusia tidak hanya membutuhkan makanan lahiriah, tetapi juga makanan batin berupa zikir, ilmu, dan ibadah.
Ia mengingatkan bahwa dosa juga terbagi dua: lahiriah dan batiniah. Seseorang bisa saja tidak makan dan minum, tetapi tetap “memakan” kehormatan orang lain melalui fitnah dan kebohongan.
“Semua perintah Allah pasti membawa maslahat (kebaikan) bagi manusia. Dan semua larangan Allah adalah bentuk perlindungan agar manusia tidak rusak,” ucapnya.
Meneladani Kesabaran Rasulullah
Menjawab pertanyaan tentang hakikat puasa pada era modern, ia mencontohkan akhlak Rasulullah SAW yang tetap mendoakan kaumnya saat disakiti di Thaif. Menurut Menag, inilah bentuk kesabaran tingkat tinggi.
“Air tuba dibalas air susu. Itulah sabur, level tertinggi kesabaran,” katanya.
Puasa yang benar, lanjutnya, akan membentuk pribadi yang jujur, sabar, tidak pendendam, dan tidak mudah tergoda pujian.
Ramadan sebagai Momentum Syukur
Di akhir tausiyah, Menag Nasaruddin Umar mengajak umat Islam untuk mensyukuri nikmat terbesar dalam hidup, yakni iman dan Islam.
“Kalau Nabi tidak turun dari Mi’raj, mungkin kita tidak mengenal Islam secara sempurna. Maka syukuri ajaran Islam, syukuri Ramadan,” ujarnya.
Menag melanjutkan bahwa puasa bukan upaya untuk “menyogok Tuhan” agar masuk surga, melainkan untuk kebaikan manusia sendiri. "Semua syariat pada hakikatnya bertujuan menjaga kemaslahatan umat," katanya.
Dengan memahami makna puasa secara mendalam, umat Islam diharapkan tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga, tetapi juga peningkatan iman, akhlak, dan ketakwaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.