Perjuangan Anak-Anak SD di Pandeglang, Terjang Arus Sungai demi Sekolah

Anak-anak harus menyeberang sungai setiap hari untuk bisa bersekolah. (Metro TV/Seprinal Sri Putra)

Perjuangan Anak-Anak SD di Pandeglang, Terjang Arus Sungai demi Sekolah

Metro TV • 28 July 2026 09:08

Pandeglang: Puluhan murid sekolah dasar (SD) di Kabupaten Pandeglang, Banten, harus mempertaruhkan keselamatan setiap hari dengan menyeberangi Sungai Cipunten Agung yang memiliki panjang sekitar 26 meter di Kecamatan Labuan untuk bisa menuntut ilmu. Lantaran jembatan dari bambu putus karena diterjang arus, siswa dan siswi SD itu harus menyeberangi sungai untuk menuju ke sekolah.

Anak-anak harus berjalan hati-hati, didampingi beberapa orang tua yang khawatir saat menyeberang sungai. Mereka pun harus lebih dulu melepas sepatu dan kaus kaki yang dikenakan agar tidak basah saat menerjang arus.

Anak-anak harus menyeberang sungai setiap hari untuk bisa bersekolah. (Metro TV/Seprinal Sri Putra)

Salah satu orang tua siswa, Dianah, mengaku bahwa setiap hari ikut mengantar anaknya yang masih SD untuk menyeberang sungai demi keselamatan buah hatinya. Rasa khawatir kerap menggelayut setiap pergi dan pulang sekolah.

"Lewat sungai ini tiap hari. Waktu itu sempat ada (jembatan) dari bambu, tapi kebawa arus sungai. Sekarang enggak ada sama sekali," ujar Dianah di Labuan, Pandeglang, Senin, 27 Juli 2026.

Dia menyebut bahwa ada jalan darat lain, namun anak-anak harus menempuh jalur yang jauh untuk tiba ke sekolah di SDN Padahayu 2, Pandeglang. Jaraknya sekitar tiga kilometer.

"Khawatir iya, apalagi kalau musim hujan, arus besar, jadi engga bisa sekolah. Harapannya mau dibangun jembatan, biar anak-anak sekolahnya nyaman," harap dia.


Anak-anak harus menyeberang sungai setiap hari untuk bisa bersekolah. (Metro TV/Seprinal Sri Putra)

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Padahayu 2, Tedi Rustandi, mengaku minimnya akses jembatan tersebut memengaruhi jumlah murid yang mendaftar di sekolahnya. Dia menyebut bahwa dulu SDN Padahayu 2 punya banyak siswa.

"Dulu jumlah murid di sini banyak. Sempat ada jembatan dibangun swadaya masyarakat, tapi hanyut. Akhirnya sekarang memengaruhi jumlah murid di sini," kata dia.

Dia mengatakan, minimnya akses infrastruktur tersebut membuat orang tua khawatir menyekolahkan anaknya di SDN Padahayu 2. Akibatnya, banyak orang tua memilih mendaftar ke sekolah lain yang lebih jauh. (Metro TV/Seprinal Sri Putra)

(Lukman Diah Sari)