SMK Letris Pamulang Tangerang g Selatan.
Dugaan Child Grooming Oknum Kepsek, SMK Letris Pamulang Minta Korban Lain Buka Suara
Hendrik Simorangkir • 19 May 2026 09:50
Tangsel: Perkara dugaan child grooming (pencabulan terhadap anak di bawah umur melalui pendekatan daring) yang melibatkan kepala sekolah SMK Letris Indonesia berinisial AMA di Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), viral media sosial. Pihak yayasan mengungkapkan bahwa kemungkinan kasus ini tidak hanya melibatkan satu orang korban.
"Iya mungkin (ada siswi lain yang diduga jadi korban), kemungkinan ada. Makanya tadi, hari ini kita minta mereka untuk speak up, tapi tadi baru ada satu yang pernah katanya di-DM (direct message) sama bapak Kepala Sekolah. Setelah kejadian ini kan memantik dari orang-orang untuk berani speak up," ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Letris Pamulang, Firdaus Shaugie, Senin, 18 Mei 2026.
Firdaus menuturkan, pihak sekolah awalnya mengetahui kasus tersebut setelah ramai diperbincangkan pada 13 Mei 2026. Saat itu, muncul sebuah akun yang berisi kumpulan foto, video, dan tangkapan layar percakapan.
Konten-konten tersebut sebelumnya diunggah sendiri oleh siswi bersangkutan di saluran WhatsApp pribadinya yang bernama 'Em Anu'. Di saluran itu, konten-konten tersebut awalnya hanya diketahui oleh kalangan terbatas para pengikut saluran tersebut.
"Kejadian ini memang sangat mengagetkan sekali ya dari pihak sekolah. Kita shock banget tentang kejadian ini. Konten-kontennya itu diambil oleh saluran 'Spill' ini. Isinya adalah foto-foto atau video dari saluran WhatsApp anak ini sendiri sebenarnya," kata Firdaus.
Firdaus menjelaskan, akun 'Spill' kemudian menambahkan narasi bahwa hubungan antara siswi dan kepala sekolah dinilai tidak wajar. Di saluran tersebut, beredar dokumentasi keduanya saat makan bersama, berjalan-jalan, hingga momen selama kegiatan studi tur sekolah ke Yogyakarta yang berlangsung pada 7-10 Mei. Konten itu kemudian diunggah ulang ke berbagai platform media sosial dan memicu reaksi luas dari para siswa maupun alumni.
"Dalam waktu singkat, kasus tersebut berkembang menjadi perbincangan publik dan memunculkan dugaan adanya hubungan tidak profesional antara guru dan siswa. Setelah ramai 13 Mei itu akun ini ramai, banyak yang screenshot, ditaruhlah di Twitter, ditaruhlah di Instagram, anak-anak pada nge-live TikTok," jelas Firdaus.

Ilustrasi. Foto: Freepik.com.
Firdaus menambahkan, pihak sekolah kini membuka ruang pengaduan bagi para siswa dan alumni yang ingin melapor secara langsung kepada pihak yayasan maupun manajemen sekolah. Tekanan yang terus membesar di ruang digital akhirnya berujung pada penonaktifan permanen kepala sekolah sekaligus pengunduran dirinya dari jabatan.
Pihak yayasan menyatakan bahwa kasus tersebut merupakan pelanggaran kode etik, meskipun hubungan yang dipersoalkan disebut-sebut terjadi di luar lingkungan sekolah.