Tiga Komoditas Tropis Senilai Rp40,8 Miliar Diekspor ke Tiongkok

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding Tiga komoditas tropis unggulan seperti Manggis, Kepiting, dan Walet senilai Rp40,8 miliar diekspor ke pasar Tiongkok melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Metrotvnews.com/ Hendrik S

Tiga Komoditas Tropis Senilai Rp40,8 Miliar Diekspor ke Tiongkok

Hendrik Simorangkir • 21 August 2026 19:22

Tangerang: Tiga komoditas tropis unggulan seperti Manggis, Kepiting, dan Walet senilai Rp40,8 miliar diekspor ke pasar Tiongkok. Tujuannya untuk mendorong daya saing produk lokal agar mampu menembus pasar global dengan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan negara tujuan.

"Ekspor komoditas tropis ini dilakukan melalui program "Merdeka Ekspor" dengan bentuknya pelepasan terhadap tiga komoditas ekspor, khususnya ke Tiongkok, yaitu manggis, kepiting, dan juga walet," ujar Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat, 21 Agustus 2026.

Karding menuturkan, tiga komoditas tropis tersebut memiliki permintaan tinggi di pasar internasional. Melalui pelepasan ekspor tersebut, Barantin mendorong agar ekspor tidak berhenti pada produk mentah, tetapi juga diikuti dengan optimalisasi proses hilirisasi.
 


"Hilirisasi nanti harus berjalan. Seperti tadi ada sup walet yang instan itu, kemudian ada mineral walet nanti bisa diekspor, pastinya nilai tambah tenaga kerja jadi banyak," ungkap Karding. 

Untuk mendukung peningkatan ekspor, pihaknya menghadirkan layanan bernama Klinik Ekspor. Layanan ini ditujukan untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta petani yang kerap menghadapi kendala dalam memenuhi standar internasional.

"Layanan ini berfungsi sebagai sarana pendampingan bagi para pelaku usaha untuk mempersiapkan diri memenuhi standar mutu dan protokol ekspor yang disepakati negara tujuan," jelas Karding. 

Karding menambahkan, saat ini tantangan utama yang dihadapi UMKM berkaitan dengan keterbatasan manajemen standar kualitas, akses permodalan, serta upaya menjaga konsistensi dan persistensi mutu produk di lapangan.

"UMKM itu problemnya adalah standar, standar, karena kan manajemen mereka juga manajemen yang terbatas itu, kalau untuk ekspornya," tutur Karding. 


Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding Tiga komoditas tropis unggulan seperti Manggis, Kepiting, dan Walet senilai Rp40,8 miliar diekspor ke pasar Tiongkok melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Metrotvnews.com/ Hendrik S


Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni mengatakan pertumbuhan ekspor di wilayahnya sempat mengalami penurunan akibat tekanan kondisi global. Meski demikian, Banten tetap menjadi salah satu sentra produksi berbagai komoditas ekspor utama sekaligus pusat hilirisasi nasional.

"Banten masih menjadi salah satu sentra produksi produk-produk ekspor yang ada di Indonesia. Kemudian kebijakan pemerintah, Provinsi Banten merupakan salah satu pusat hilirisasi," kata Andra Soni. 

Andra Soni menambahkan, letak geografis Banten yang strategis, didukung akses dekat ke bandara, wilayah laut yang luas, serta sektor pertanian yang produktif, memberikan potensi besar bagi daerah tersebut untuk memasarkan produk lokal ke pasar internasional.

"Kami akan mengerahkan seluruh jajaran kepala dinas untuk menindaklanjuti program pembinaan, termasuk mengintegrasikan layanan Klinik Ekspor bersama Balai Karantina Provinsi Banten di area bandara, guna mengatasi hambatan pengetahuan di kalangan UMKM," jelas Andra Soni. 

(Silvana Febiari)