Sasaksaat Terowongan Kereta Terpanjang di Indonesia

Terowongan Sasaksaat. (Dok: PT KAI/ X @KAI121)

Sasaksaat Terowongan Kereta Terpanjang di Indonesia

Lukman Diah Sari • 21 September 2026 08:47

Jakarta: Seabad lebih, Terowongan Sasaksaat, di Perbukitan Cidepong, Kabupaten Bandung Barat, menjadi saksi perjalanan kereta api. Terowongan ini menyandang status sebagai terowongan kereta api aktif terpanjang di Tanah Air. Dengan bentangan mencapai 949 meter, lorong pekat di Kampung Sasaksaat ini tak sekadar menembus kerasnya bebatuan, tetapi juga menembus lorong waktu sejarah kolonial di Tanah Air.

Melansir laman resmi Kereta Api Indonesia (KAI), terowongan yang terapit di antara Stasiun Maswati dan Stasiun Sasaksaat (km 143+144) ini menyimpan epos yang amat panjang. Dibangun pada kurun waktu 1902-1903 oleh perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatssporwegen (SS), lorong ini lahir dari rahim proyek jalur perlintasan Purwakarta-Padalarang yang diamanatkan dalam Undang-undang 29 Desember 1900 Stablad Nomor 8.


Para pekerja tengah berfoto di salah satu mulut terowongan tahun 1903. (Sumber: Tropenmuseum TM-ALB-1955-18)

Pembangunannya adalah potret nyata dari perpaduan antara ambisi Eropa dan kentalnya kearifan lokal nusantara. Kala itu, proyek ini dipercayakan kepada pemborong Eropa yang membawa teknologi mutakhir dari Belgia. Di lapangan, garis stratifikasi sosial terlihat begitu mencolok: orang-orang Eropa duduk rapi sebagai kepala cabang, mandor, dan teknisi, sementara kuli asal Tiongkok dan kaum pribumi memeras keringat di garis depan penggalian.

Namun, teknologi Eropa nyatanya harus tunduk pada mistisisme lokal. Karena warga setempat meyakini gunung yang akan dilubangi itu adalah kawasan angker yang dijaga entitas tak kasat mata, sebuah upacara pemberian sesajen tradisional pun diwajibkan sebelum palu pertama diayunkan. Tujuannya merayu alam agar memberikan keselamatan bagi nyawa para pekerja.

Mengutip catatan KAI, para pekerja kerap berhadapan dengan kerasnya batu cadas. Demi menghindari risiko getaran tinggi yang bisa memicu longsor fatal dari atap terowongan, penggunaan bahan peledak dinamit maupun bor mesin dilarang keras. Alhasil, bebatuan keras itu harus dihancurkan lapis demi lapis menggunakan bor manual dan kekuatan tangan telanjang manusia.


Potret para pekerja ketika proses Terowongan Sasaksaat, tampak orang Eropa dan pribumi. (Sumber: Tropenmuseum TM-ALB-1955-17)

Di bawah temaram lampu bertenaga dinamo, para pekerja mengucurkan peluh tanpa henti, membelah malam dan menyongsong siang. Pengorbanan berdarah-darah itu berbuah manis saat Terowongan Sasaksaat resmi dibuka untuk umum pada 2 Mei 1906, bersamaan dengan peresmian jalur Purwakarta-Padalarang.

Pada masa awal kejayaannya, lorong gelap ini menjadi saksi bisu hilir mudiknya kereta yang membawa penumpang dan hasil bumi Priangan yang melimpah—seperti gula, kopi, dan indigo. Komoditas berharga itu dibawa membelah bumi menuju pelabuhan Batavia, sebelum akhirnya dikapalkan membelah samudra menuju Eropa.

Kini, lebih dari satu abad berlalu, Terowongan Sasaksaat masih bernapas panjang. Di bawah naungan Daerah Operasi (Daop) II Bandung, terowongan legendaris ini setia mendekap rangkaian kereta api jarak jauh yang melaju membawa ribuan penumpang rute Jakarta-Bandung hingga ke arah Purwokerto. Sebuah warisan dari peluh, sesajen, dan dedikasi yang abadi dalam setiap gemuruh roda besi.

*Pengerjaan artikel ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.

(Lukman Diah Sari)