Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)
Podium Media Indonesia
Jangan Takut kepada Anak Krakatau
Abdul Kohar, Media Indonesia • 8 September 2026 05:24
KRAKATAU rupanya mempunyai cara sendiri untuk membuat manusia mengingat sejarah. Ia tidak mengirim undangan seminar, tidak menerbitkan buku memoar, apalagi membuat siniar. Ia cukup batuk sedikit, menyemburkan abu dan lava, lalu orang-orang di sepanjang Selat Sunda segera menengok ke laut.
Begitu Gunung Anak Krakatau erupsi, ingatan kita hampir otomatis berlari ke 1883. Itu bisa dimaklumi. Nama Krakatau memang telanjur menjadi sinonim bagi kedahsyatan. Ia bukan cuma nama gunung, melainkan juga semacam arsip raksasa tentang betapa kecilnya manusia ketika bumi sedang punya urusan sendiri.
Pada 26-27 Agustus 1883, Krakatau meledak dengan kekuatan yang sukar dibayangkan. Langit menghitam. Dentumannya terdengar ribuan kilometer. Tsunami menerjang pesisir Banten dan Lampung. Catatan pemerintah Hindia Belanda menyebut 36.417 orang meninggal.
Gelombang tekanan atmosfernya mengelilingi bumi. Debu vulkanisnya bahkan ikut mengubah warna langit di berbagai belahan dunia. Krakatau yang terletak di sebuah selat kecil di antara Jawa dan Sumatra mendadak menjadi urusan planet.
Apalagi, yang sekarang aktif bukan Krakatau yang persis sama dengan gunung pada 1883. Krakatau lama telah hancur. Sebagian tubuhnya runtuh ke dalam laut. Yang tersisa antara lain Rakata serta pulau-pulau di sekitarnya. Dari kawasan kaldera itulah, sejak 1927, muncul gunung baru.
Kita menamainya Anak Krakatau. Nama yang terdengar imut, memang. Namun, dalam urusan gunung api, jangan terkecoh oleh sebutan 'anak'. Anak yang satu ini sudah lama pandai menyemburkan material vulkanis.
Ia tumbuh, berubah, erupsi, kemudian tumbuh lagi. Morfologinya bahkan berubah drastis setelah longsoran pada 2018 yang memicu tsunami Selat Sunda.
Karena itu, setiap erupsi Anak Krakatau memang harus diwaspadai. Akan tetapi, kewaspadaan bukanlah kepanikan.
Kita tidak boleh setiap melihat kolom abu lantas membayangkan 1883 akan terulang besok pagi. Sebaliknya, kita juga tidak boleh bersikap seperti sebagian orang yang, karena sudah berkali-kali mendengar gunung batuk, menganggap batuk berikutnya cuma masuk angin.
Alam tidak bekerja menurut perasaan manusia. Di sinilah ilmu pengetahuan dan mitigasi bencana mesti mengambil tempat. Kita sekarang hidup lebih dari 140 tahun setelah tragedi 1883. Zaman sudah berubah. Dulu manusia membaca kemurkaan Krakatau dari gemuruh, perubahan warna laut, dan langit yang mendadak gelap. Sekarang kita punya seismograf, satelit, pemantauan deformasi tubuh gunung, sensor, sistem peringatan dini, serta lembaga yang setiap hari mengamati aktivitas vulkanis.

Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi KESDM/aa.
Karena itu, kalau masih ada korban karena warga tidak mengetahui jalur evakuasi, sirene tidak berfungsi, informasi terlambat, atau pemerintah daerah tidak siap, yang bermasalah bukan semata-mata keganasan alam. Bisa jadi kita yang gagal belajar.
Krakatau 1883 seharusnya tidak diwariskan sebagai cerita horor dari kakek kepada cucu. Ia mesti diwariskan sebagai pengetahuan.
Masyarakat pesisir Selat Sunda harus mengenali jalur evakuasi sebagaimana mengenali jalan menuju pasar. Sekolah, hotel, tempat wisata, permukiman, dan industri di kawasan rawan mesti mempunyai prosedur evakuasi yang hidup, bukan sekadar papan petunjuk yang catnya mengelupas. Simulasi harus dilakukan berulang-ulang sampai orang tahu ke mana harus berlari bahkan ketika listrik padam dan telepon seluler kehilangan sinyal.
Trauma terhadap Krakatau tidak perlu dihapus. Trauma justru bisa menjadi alarm kolektif, asalkan diolah menjadi kesiapsiagaan.
Kita memang tidak bisa melarang Anak Krakatau meletus. Tidak ada peraturan pemerintah yang mampu memerintahkan magma berhenti bergerak. Yang dapat kita lakukan ialah membaca tanda-tandanya, mematuhi rekomendasi ilmiah, menyiapkan evakuasi, dan tidak menantang risiko demi sepotong foto atau video.
Krakatau pernah mengajari dunia betapa dahsyat kekuatan bumi. Anak Krakatau kini menguji apakah keturunannya, yakni kita, sudah lebih pandai belajar. Jangan takut kepada gunungnya. Takutlah kalau setelah 143 tahun, kita masih juga tidak siap.