Nelayan menyiapkan perahunya saat akan melaut di salah satu pantai di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (26/8/2026). ANTARA FOTO/Mega Tokan/app/nym.
BNPB: Nelayan Ngada Kembali Beraktivitas Pascagempa
Siti Yona Hukmana • 2 September 2026 21:36
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan nelayan di Kabupaten Ngada telah beraktivitas kembali pascagempa bumi M7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini diketahui usai meninjau wilayah pesisir Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.
Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan BNPB, Bambang Surya Putra yang meninjau wilayah pesisir Kecamatan Riung itu berdialog dengan masyarakat dan para nelayan yang aktivitasnya sempat terganggu. Apalagi, sempat dikeluarkan peringatan dini tsunami.
“Peringatan dini tsunami akibat gempa pada Sabtu, 15 Agustus 2026 telah dinyatakan berakhir oleh BMKG. Karena itu, masyarakat, termasuk para nelayan, secara bertahap dapat kembali menjalankan aktivitasnya. Namun, kewaspadaan tetap harus dijaga dan informasi resmi dari BMKG maupun pemerintah daerah harus terus diikuti,” ujar Bambang di Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 2 September 2026.
Menurut Bambang, kembalinya aktivitas masyarakat merupakan bagian penting dalam proses penanganan pascabencana. Masyarakat perlu mendapatkan kepastian informasi agar dapat kembali menjalankan kehidupan sehari-hari secara bertahap tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
“Kita tidak ingin masyarakat terus hidup dalam ketakutan. Yang perlu kita bangun adalah kesiapsiagaan. Kehidupan dan kegiatan ekonomi masyarakat harus mulai berjalan kembali, dengan tetap mengikuti informasi resmi,” kata Bambang.
.jpg)
(Warga melintas di bangunan yang rusak akibat gempa NTT. Foto: Antara)
Sementara itu, Anggota Unsur Pengarah BNPB, Isroil Samihardjo bersama Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu menemui para tokoh agama di Stasi Keluarga Roh Kudus Nazareth, Kelurahan Nangamese, Kecamatan Riung. Keduanya diterima Romo Vikep Kevikepan Bajawa RD Gabriel Idrus, Pr., Pastor Paroki Bekek RD Wempi Da Silva, Pr., serta para imam lainnya.
Pertemuan tersebut dilakukan untuk membangun komunikasi sekaligus memperoleh masukan dari para tokoh agama mengenai kondisi masyarakat dan proses pemulihan pascagempa, khususnya di wilayah Kecamatan Riung. Dalam pertemuan itu, Isroil meminta dukungan para tokoh agama agar proses pemulihan masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Menurutnya, tokoh agama memiliki posisi penting dalam proses pemulihan, karena memiliki hubungan yang dekat dengan masyarakat serta memahami kondisi warga di wilayah pelayanan masing-masing.
“Penanggulangan bencana bukan semata-mata membangun kembali rumah yang rusak. Yang kita pulihkan adalah kehidupan masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu mendengar masyarakat dan menggandeng tokoh-tokoh yang berada dekat dengan mereka,” kata Isroil.