Masyarakat Wajib Waspada Dampak Abu Vulkanik Meski Erupsi Usai

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Foto: Dok. BNPB.

Masyarakat Wajib Waspada Dampak Abu Vulkanik Meski Erupsi Usai

Anggi Tondi Martaon • 8 September 2026 11:19

Jakarta: Masyarakat diingatkan tetap mewaspadai dampak abu vulkanik meski erupsi telah selesai. Sebab, partikel abu yang menumpuk di dinding atau jalan berpotensi terangkat kembali ke udara.

“Jadi risikonya berlanjut berhari-hari sampai berminggu-minggu, sampai abu benar-benar dibersihkan atau tersapu hujan,” kata Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Sukamto Koesnoe dikutip dari Antara, Selasa, 8 September 2026.

Sukamto menjelaskan bahwa abu vulkanik bukan debu biasa, karena terdapat partikelnya tajam, bersudut, mengandung silika, dan sebagian berukuran sangat halus (PM10 dan PM2.5). Sehingga, bisa terhirup sampai ke saluran napas bawah bahkan alveolus.

“Gangguan pada saluran napas yang paling sering berupa iritasi hidung, tenggorokan kering dan nyeri, batuk kering, sesak, serta dada terasa berat,” ungkap Sukamto.

Partikel abu vulkanik juga perlu diwaspadai penderita penyakit kronik seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), bronkitis kronik, rinitis alergi. Jika terhirup, paparan ini kerap memicu serangan atau eksaserbasi.

Selain itu, iritasi pada jaringan lembab (mukosa) dapat melemahkan pertahanan lokal saluran napas. Sehingga, risiko infeksi saluran napas akut meningkat.

“Karena itu bagi pasien penyakit paru kronik dan lansia, status vaksinasi influenza dan pneumokokus sebaiknya diperbarui, ini bagian dari perlindungan yang sering terlupakan,” tutur dosen tetap di Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen IPD Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.

Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan tidak hanya menyerang sistem pernapasan. Sukamto menyampaikan berisiko termasuk pada mata, seperti iritasi, mata merah, konjungtivitis, sampai lecet pada kornea karena partikel abu yang tajam.

“Pengguna lensa kontak paling berisiko dan sebaiknya beralih sementara ke kacamata,” sebut Sukamto.

Sedangkan dampak abu vulkanik terhadap kulit yaitu menimbulkan iritasi, gatal, dermatitis, terutama bila abu bersifat asam atau bercampur keringat. Risiko lain muncul ketika abu mencemari makanan dan air minum yang tidak terlindungi, sehingga dapat mengganggu saluran pencernaan.

Di sisi lain, partikel PM2.5 dari abu vulkanik berdampak pada jantung dan pembuluh darah. Bahkan dapat memicu perburukan kondisi pada penderita penyakit jantung.

“Silikosis memang disebut-sebut, tetapi itu risiko jangka panjang dari paparan berulang bertahun-tahun; yang lebih relevan untuk masyarakat umum saat ini adalah dampak akut di atas,” kata Sukamto.

Lebih lanjut, Sukamto menyarankan pada penderita asma dan PPOK wajib memastikan obat pengontrol dan obat pelega selalu tersedia dan dibawa bepergian. Masyarakat disarankan segera ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak yang memberat.

"Atau mengi yang tidak mereda dengan inhaler, nyeri dada, demam dengan batuk berdahak yang menetap, atau nyeri mata dan penglihatan kabur,” ujar Dokter Pendidik Klinik Utama, Divisi Endokrinologi, Imunologi, dan Infeksi, Departemen Penyakit Dalam RSCM itu.

Ilustrasi masyarakat menggunakan masker. Foto: Antara.

Dalam upaya menangkal paparan partikel abu vulkanik, Sukamto merekomendasikan penggunaan masker jenis N95, KN95, FFP2 menjadi pilihan terbaik, asalkan terpasang rapat tanpa celah di sisi hidung dan pipi. Pada penggunaan masker, kata dia, kuncinya bukan hanya bahan penyaring, tetapi kerapatan segel ke wajah.

Sebelumnya beberapa gunung api di Indonesia belakangan mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan, termasuk Gunung Anak Krakatau, Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, dan Sinabung.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan persebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026 pukul 15.00 WIB teridentifikasi mengarah ke bagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

(Anggi Tondi)