Aktivis Australia Tuduh Israel Lakukan Kekerasan terhadap Peserta Misi GSF 2.0

Global Sumud Flotilla mencoba menembus blokade Israel menuju Jalur Gaza. (Anadolu Agency)

Aktivis Australia Tuduh Israel Lakukan Kekerasan terhadap Peserta Misi GSF 2.0

Willy Haryono • 25 May 2026 18:31

Canberra: Sejumlah aktivis Australia yang ditahan Israel saat mengikuti misi bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menuju Gaza telah kembali ke negaranya, dan mereka mengaku telah mengalami kekerasan selama masa penahanan.

Mereka menuduh aparat Israel melakukan pemukulan, pelecehan seksual, hingga penggunaan kekerasan terhadap para peserta flotilla.

Sebanyak 11 warga Australia tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla bersama sekitar 430 relawan dari 40 negara yang dicegat pasukan Israel di perairan internasional pekan lalu.

Salah satu aktivis, Juliet Lamont, tiba di Melbourne pada Minggu malam, 24 Mei 2026. Aktivis sekaligus pembuat film dokumenter itu mengaku diseret, dilecehkan secara seksual, dan dipukuli setelah ditahan.

“Itu baru awal dari empat hari yang benar-benar seperti neraka,” kata Lamont, dikutip dari New Straits Times, Senin, 25 Mei 2026.

Lamont juga mengatakan dirinya melihat perlakuan yang dinilai tidak manusiawi selama masa penahanan.

Disetrum dan Ditembak Peluru Karet

Aktivis lain, Sam Woripa Watson, mengaku mengalami patah tulang rusuk serta luka memar dan sayatan di beberapa bagian tubuh. Ia juga mengatakan sejumlah peserta flotilla disetrum menggunakan taser, ditembak peluru karet, dan dilempari granat kejut oleh aparat Israel.

Penyelenggara misi bantuan, Global Sumud Flotilla, menyatakan telah mendokumentasikan sedikitnya 15 kasus dugaan pelecehan seksual terhadap peserta.

Menurut organisasi tersebut, dugaan kekerasan paling serius terjadi di kapal pendarat milik Israel yang disebut diubah menjadi penjara darurat menggunakan kawat berduri dan kontainer pengiriman.

Israel Bantah Tuduhan

Otoritas penjara Israel membantah seluruh tuduhan terkait kekerasan, pemerkosaan, dan pelecehan seksual terhadap para aktivis.

Kasus ini meningkatkan tekanan internasional terhadap Israel setelah beredarnya video Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang terlihat mengejek para aktivis dalam kondisi diborgol.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyebut rekaman tersebut sebagai sesuatu yang mengejutkan dan tidak dapat diterima.

Australia sebelumnya telah menjatuhkan larangan perjalanan dan sanksi finansial terhadap Ben-Gvir atas tuduhan menghasut kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. (Keysa Qanita)

Baca juga:  Malaysia Siap Gugat Israel ke ICJ Terkait Dugaan Kekerasan terhadap Relawan GSF

(Willy Haryono)