Rusia Bersiap Evakuasi Warganya dari Kuba di Tengah Blokade Minyak AS

Turis asal Rusia di Kuba, 2024. Foto: EPA-EFE

Rusia Bersiap Evakuasi Warganya dari Kuba di Tengah Blokade Minyak AS

Riza Aslam Khaeron • 12 February 2026 11:00

Moskow: Rusia mengumumkan akan mengevakuasi warga negaranya dari Kuba dalam beberapa hari ke depan menyusul krisis bahan bakar yang melanda pulau tersebut akibat blokade minyak oleh Amerika Serikat.

Melansir The Guardian, pada Rabu, 11 Februari 2026, otoritas penerbangan Rusia menyatakan bahwa dua maskapai mereka yang melayani rute ke Kuba hanya akan mengoperasikan penerbangan keluar untuk memulangkan para turis sebelum menghentikan seluruh layanan ke wilayah itu.

Langkah ini diambil setelah otoritas penerbangan Kuba memperingatkan bahwa mereka hampir kehabisan bahan bakar jet, mengancam kelangsungan industri pariwisata negara tersebut.

Dewan pariwisata Rusia melaporkan sekitar 4.000 turis Rusia sedang berada di Kuba, banyak di antaranya merupakan pegawai negara. Kuba, sekutu lama Kremlin, merupakan satu dari sedikit tujuan luar negeri yang masih diizinkan untuk dikunjungi pejabat Rusia di bawah aturan perjalanan ketat dari dinas keamanan mereka.

Dewan itu juga mengumumkan penangguhan seluruh paket wisata ke Kuba dalam waktu dekat.

Krisis ini juga berdampak pada maskapai lain. Air Canada menghentikan sementara seluruh penerbangan ke Kuba karena krisis bahan bakar, sementara beberapa maskapai lain mengalihkan penerbangan mereka untuk mengisi bahan bakar di bandara Karibia tetangga.
 

Baca Juga:
Pentagon Siapkan Pengerahan Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah

Situasi memburuk dengan cepat sejak pemerintahan Trump memberlakukan langkah blokade minyak ke Kuba pada Januari 2026. Pengiriman terakhir bahan bakar tercatat datang dari Meksiko pada awal Januari, namun ekspor dihentikan karena tekanan dari AS.

Pada saat bersamaan, pasokan minyak mentah dari Venezuela terputus setelah operasi AS di bulan yang sama berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, yang selama ini menjadi penyokong utama energi Kuba.

Pihak Kremlin pada Senin menyebut situasi bahan bakar di Kuba sebagai kondisi kritis, dengan menyatakan bahwa upaya AS untuk "mencekik" Kuba telah menimbulkan banyak kesulitan.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, juga menyatakan bahwa Moskow berdiri bersama Kuba dan "siap memberikan semua dukungan yang diperlukan bersama mitra sehaluan lainnya".

Namun hingga kini belum jelas bentuk dukungan seperti apa yang dapat diberikan, karena Kremlin masih terlibat negosiasi sensitif dengan pemerintahan Trump, sementara perhatian politik dan militer Rusia masih tersita oleh perang di Ukraina.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)