Ilustrasi. Foto: Dok Adobestock
Harga Listrik di Eropa Melonjak Dipicu Kekhawatiran Pasokan Gas
Eko Nordiansyah • 20 September 2026 09:19
London: Harga listrik Eropa memasuki musim dingin pada level tertinggi sejak krisis energi di kawasan tersebut. Laporan Bloomberg menyebut, lonjakan ini karena kenaikan biaya gas alam dan gangguan pasokan akibat perang Iran menekan pasar listrik.
Dikutip dari Investing, Minggu, 20 September 2026, harga listrik grosir Jerman untuk bulan Januari diperdagangkan di atas 180 euro per megawatt-jam di European Energy Exchange, lebih dari 60 persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Gas alam menjadi faktor pendorong utama di tengah upaya Eropa mengisi kembali cadangan di tengah persaingan pasokan yang semakin ketat. Penutupan Selat Hormuz telah memutus pasokan dari Qatar, menambah tekanan pada pasar yang semakin bergantung pada impor gas alam cair (LNG).
Penurunan produksi dari armada pembangkit listrik tenaga nuklir Prancis akibat cuaca panas dan aksi mogok kerja, serta rendahnya cadangan listrik tenaga air, turut menambah tekanan tahun ini.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Menambah tekanan inflasi
Harga yang lebih tinggi dapat meningkatkan tagihan energi rumah tangga dan bisnis serta menambah tekanan inflasi. Tagihan energi rumah tangga Inggris diperkirakan akan naik 25 persen pada bulan Januari, meskipun dampaknya di seluruh Eropa akan bervariasi tergantung pada dukungan pemerintah dan strategi lindung nilai (hedging) perusahaan utilitas.Posisi Eropa saat ini lebih baik dibandingkan saat krisis energi tahun 2022, ketika harga listrik grosir sempat melampaui 1.000 euro per megawatt-jam. Kawasan ini telah memperluas infrastruktur impor LNG, mengurangi konsumsi bahan bakar, dan mendiversifikasi pemasok, sehingga mengurangi risiko kekurangan pasokan.
Harga grosir yang lebih tinggi dapat menguntungkan produsen listrik Eropa. Jefferies memperkirakan laba tahun depan bagi RWE, Engie, dan EDP Renewables bisa mencapai 10 persen di atas perkiraan saat ini.
Kapasitas energi terbarukan juga turut membantu menekan biaya. Baringa memperkirakan harga grosir energi di Eropa akan 30 persen lebih tinggi pada musim panas ini jika kapasitas tenaga surya yang dipasang sejak tahun 2021 tidak ada.
Musim dingin menghadirkan tantangan yang lebih besar karena produksi listrik tenaga surya menurun, sementara periode cuaca dingin dan minim angin dapat meningkatkan ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar gas.
Chief Investment Officer di Northlander Commodity Advisors Ulf Ek mengatakan, harga grosir listrik bisa melonjak hingga 50 persen selama musim dingin yang ekstrem jika pasokan energi dari Timur Tengah tetap terbatas.