Ilustrasi harga beras. Foto: dok Bulog.
Bapanas Salurkan 1,34 Juta Ton Beras Demi Jaga Harga Tetap Terkendali
Husen Miftahudin • 2 July 2026 13:57
Jakarta: Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan penyaluran 1,34 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sepanjang Januari hingga Juni 2026 berhasil menjaga stabilitas harga beras nasional sekaligus menekan laju inflasi komoditas tersebut.
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan stabilitas harga beras saat ini masih terjaga berkat distribusi stok CBP yang berasal dari hasil serapan produksi dalam negeri.
"Inflasi dan harga beras secara nasional masih terjaga, salah satunya ditopang oleh penyaluran stok CBP yang bersumber dari hasil serapan produksi beras dalam negeri," ujar Amran dikutip dari Antara, Kamis, 2 Juli 2026.
Intervensi beras dilakukan melalui Perum Bulog dengan total distribusi mencapai 1,34 juta ton. Dari jumlah tersebut, realisasi penjualan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada Januari dan Februari mencapai 221,05 ribu ton. Sementara penyaluran SPHP periode Maret hingga Juni mencapai 406,5 ribu ton.
Selain itu, program bantuan pangan untuk alokasi Februari dan Maret yang difinalkan hingga akhir Juni telah menjangkau 33,14 juta keluarga penerima manfaat dengan total penyaluran 662,86 ribu ton. Sisa CBP juga digunakan untuk program golongan anggaran ASN di wilayah tertentu sebanyak 40,72 ribu ton dan bantuan penanganan bencana alam sebesar 11,37 ribu ton.
| Baca juga: Proyeksi Produksi Beras Tembus 25,28 Juta Ton, Mentan: Swasembada Pangan Makin Terjaga |
Stok beras nasional cetak rekor
Amran menyebut stok beras pemerintah saat ini mencapai 5,1 juta ton, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
"Stok kita hari ini tertinggi sepanjang sejarah, selama kita merdeka. Ini stoknya hari ini 5,1 juta ton. FAO baru mengeluarkan pengumuman, justru produksi kita melompat, estimasi di 2026 itu 38 juta ton," ucap Amran.
Menurut perhitungan pemerintah, apabila total produksi beras tahunan tetap berada di kisaran 34 juta ton seperti pada 2025, surplus produksi terhadap 2024 diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton.
Jika proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO) yang memperkirakan produksi beras Indonesia menyentuh 38 juta ton terealisasi, surplus produksi dapat meningkat lebih tinggi.
"Kalau ini terjadi, artinya delapan juta ton surplus tambah empat juta, itu bisa sampai 13 juta ton. Sehingga kita bangun gudang cepat. Ada 100 gudang dengan anggaran Rp5 triliun dan gudang itu bisa menyimpan beras dua sampai tiga tahun," terang Amran.

(Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Foto: Metrotvnews.com/Muhammad Syawaluddin)
Inflasi beras Juni 2026 mulai melandai
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi beras pada Juni 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) tercatat 3,98 persen. Angka ini lebih rendah 0,57 persen dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 4,55 persen. Sementara secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi beras tercatat 0,45 persen, masih di bawah level satu persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut kondisi tersebut mencerminkan harga beras yang relatif terkendali.
"Di tingkat eceran terjadi inflasi beras secara month to month sebesar 0,45 persen dan secara year on year sebesar 3,98 persen," papar Ateng.
Secara historis, inflasi beras tahunan pada Juni 2026 masih jauh lebih rendah dibandingkan Juni 2024 yang sempat mencapai 11,88 persen.
BPS juga mencatat inflasi beras bulanan pada Juni 2026 lebih stabil dibandingkan komoditas bawang merah dan bawang putih. Bawang merah mengalami inflasi 6,52 persen dengan andil 0,04 persen, sedangkan bawang putih mencatat inflasi 6,88 persen dengan andil 0,03 persen. Sementara andil beras terhadap inflasi bulanan hanya 0,02 persen.
Tren tersebut memperlihatkan harga beras di tingkat konsumen masih bergerak stabil. Sejak Desember 2025 hingga Juni 2026, inflasi bulanan beras belum pernah menembus level satu persen.