Kisah Anggota Masyarakat Peduli Api Tangani Karhutla di Desa Kuala Dua

Saban, Ketua Masyarakat Peduli Api di Kuala Dua, Kubu Raya. Foto: Metrotvnews.com/Muhamad Marup.

Kisah Anggota Masyarakat Peduli Api Tangani Karhutla di Desa Kuala Dua

Muhamad Marup • 9 September 2026 10:03

Kubu Raya: Tak tampak rasa lelah di wajah Saban, 48, ketika menuturkan proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Baik kisah lucu seperti menjadikan keranjang sayur untuk membawa slang-slang ratusan meter, hingga menegangkan seperti serangan ular, beruang, atau tawon saat pemadaman, senyumnya senantiasa sumringah.

Di balik keceriaannya, ayah dua anak itu sesekali refleks menyimpan lengan kiri ke saku rompinya. Ia seolah mencoba menyembunyikan sesuatu yang sulit disembunyikan; kepalan tangan yang tak sempurna.

"Dulu saya pegawai tebu. Tahun 2008 kecelakaan kena mesin dan akhirnya (tangan) diamputasi," ujar Saban saat berbincang dengan Metrotvnews.com di Desa Kuala Dua, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa 8 September 2026.
 


Tak ada kata putus asa dalam kamus hidup Saban. Di tengah keterbatasan, Saban tetap semangat membantu memadamkan api karhutla.
 

Musibah jadi penyemangat

Usai tertimpa musibah, semangat Saban tak patah. Setahun penuh ia membiasakan diri dengan kondisi tersebut hingga akhirnya mampu beraktivitas seperti biasa.

Ia bercerita hanya memiliki sisa uang Rp450 ribu setelah operasi. Saban yang saat itu sudah menjadi kepala keluarga memutar otak dengan menjadikan uang tersebut sebagai modal ternak lele.

"Saya lihat banyak orang-orang yang keterbatasan, tapi mampu berbuat hebat," terangnya.

Keputusan tersebut membuahkan hasil. Bertahun-tahun beternak lele, Saban mampu membeli lahan seluas hampir 2 hektare.


Upaya pemadaman karhutla di Kubu Raya pada Juli 2026. Dok Istimewa.

Setelahnya, ia mencoba peruntungan sebagai petani buah dan sayur. Nahas, lahan miliknya yang sedang ditanami karet ludes terbakar pada 2015.

"Saat itu belum ada Masyarakat Peduli Api (MPA) jadi pemadamamnya ya sendiri-sendiri," tuturnya.

Kebakaran lahan terjadi lagi pada 2019. Kala itu, lahan miliknya yang sedang ditanami nanas, lagi-lagi ludes dilalap api.

"Setelah itu dengan adanya insiatif dari pemerintah untuk membuat MPA, saya berbesar hati mengajukan diri untuk ikut," katanya.

Selain memadamkan api, MPA mengajarkan cara pembukaan lahan tanpa dibakar kepada anggotanya dan masyarakat. Menurutnya, pembukaan lahan dengan cara dibakar justru akan memperburuk kualitas tanah.

"Kami di MPA juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar terutama para pemilik lahan agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar," ucapnya sambil menunjuk kebunnya yang kini ditanami alpukat.
 


Aksi jadi inspirasi

Sebagai gerakan masyarakat, MPA Kuala Dua kerap menemui berbagai tantangan mulai dari infrastruktur hingga personel. Saat ini, MPA Kuala Dua hanya beranggotakan 11 orang dan menggunakan kendaraan pribadi untuk transportasi.

Saban yang saat ini baru menjabat ketua MPA Kuala Dua selama beberapa minggu itu menuturkan pihaknya harus bersiasat. Salah satunya dengan menggunakan keranjang sayur untuk mengangkut slang.

"Awalnya karena keterbatasan saja, tapi ternyata malah menginspirasi MPA-MPA lain karena efektif," ucap dia.

Ia menuturkan, proses pemadaman paling berat adalah waktu malam hari. Cahaya yang hanya bersumber dari headlamp membuat proses pemadaman semakin sulit.

"Belum lagi kalau cahaya kecil itu mengundang ular-ular dan bisa tiba-tiba muncul dari atas," jelasnya.

Dari sekian pengalaman itu, ada saja yang membuatnya kerap merenung. Salah satunya keraguan masyarakat terkait proses pemadaman api.

"Mereka sering bilang, baru dipadamin udah nyala lagi. Ya kami hanya bisa menjelaskan saja kalau lahan gambut itu memang begitu," ucapnya dengan nada yang memberat.

Di tengah keterbatasan tersebut ia mengapresiasi semua pihak yang telah terlibat kerja-kerja pemadaman karhutla mulai dari relawan, aparat, serta pemerintah mulai dari tingkat desa hingga pusat. Meski tidak terlibat langsung pemadaman, bantuan sekecil apa pun sangat berarti, khususnya bagi MPA Kuala Dua.

"Alhamdulillah bantuan selalu. Masker, peralatan, maupun vitamin untuk mendukung pemadaman selalu ada. Ada juga bantuan bensin untuk transportasi dari Pertamina," tutupnya.

(Arga Sumantri)