Netanyahu Usulkan Pipa Energi Lintasi Israel Guna Hindari Ancaman Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Xinhua

Netanyahu Usulkan Pipa Energi Lintasi Israel Guna Hindari Ancaman Iran

Muhammad Reyhansyah • 20 March 2026 18:10

Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa jalur pipa minyak dan gas perlu dibangun melintasi Semenanjung Arab menuju pelabuhan Israel sebagai alternatif untuk menghindari ancaman Iran di Selat Hormuz dan perairan Teluk lainnya.

Pernyataan  pada Kamis, 19 Maret 2026 tersebut disampaikan sehari setelah Israel menyerang ladang gas utama Iran, South Pars, dalam eskalasi signifikan dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Dalam konferensi pers, Netanyahu mengatakan bahwa rute alternatif tersebut dapat menghilangkan ketergantungan pada titik-titik sempit strategis seperti Selat Hormuz.

“Bangun saja pipa minyak dan gas yang mengalir ke barat melalui Semenanjung Arab hingga mencapai Israel dan pelabuhan kami di Laut Mediterania, maka hambatan seperti chokepoint akan sepenuhnya teratasi,” ujarnya, dikutip dari AsiaOne, Jumat, 20 Maret 2026.

“Saya melihat ini sebagai perubahan besar yang akan terjadi setelah perang ini,” tambahnya.

Menanggapi serangan terhadap ladang gas South Pars, Netanyahu mengatakan bahwa Israel bertindak secara mandiri. 

“Presiden Trump meminta kami untuk menahan diri dari serangan lanjutan terhadap fasilitas gas,” katanya.

Klaim Nuklir Iran Diperdebatkan

Dalam kesempatan yang sama, Netanyahu menyatakan bahwa Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium maupun memproduksi rudal, setelah hampir tiga pekan konflik berlangsung.

“Setelah 20 hari perang, Iran saat ini tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium dan tidak memiliki kemungkinan untuk memproduksi rudal,” ujarnya tanpa menyertakan bukti pendukung.

Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi.

“Sebagian besar kapasitas mereka masih bertahan. Mereka memiliki kemampuan, pengetahuan, serta kapasitas industri untuk melakukannya,” kata Grossi kepada CBS News.

Netanyahu juga tidak memberikan komentar mengenai cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran yang diyakini berada di bawah tanah di fasilitas nuklir Isfahan setelah serangan Amerika Serikat pada Juni.

Strategi Militer Israel Menghadapi Iran

Sejak dimulainya perang pada 28 Februari, Israel dan negara-negara Teluk menjadi sasaran serangan balasan berupa rudal dan drone dari Iran.

Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer Israel tidak hanya bertujuan menghancurkan sisa rudal balistik dan program nuklir Iran, tetapi juga industri yang mendukung produksi tersebut.

“Kami tidak hanya bertindak untuk menghancurkan sisa rudal balistik dan program nuklir -,yang tersisa sangat sedikit,- tetapi juga untuk menghancurkan industri yang memungkinkan program tersebut berjalan,” ujarnya.

Terkait kemungkinan perubahan politik di Iran, Netanyahu menyebut masih terlalu dini untuk menilai apakah masyarakat Iran akan bangkit menentang pemerintahnya.

“Itu tergantung pada rakyat Iran untuk menentukan waktu dan mengambil momentum,” katanya.

Ia juga mengisyaratkan bahwa operasi militer di masa depan tidak akan hanya mengandalkan serangan udara.

“Harus ada komponen darat juga. Ada banyak kemungkinan untuk itu, dan saya memilih untuk tidak mengungkapkan semuanya,” pungkas Netanyahu.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)