Hadapi Harga Minyak Tinggi, Ini Strategi Presiden Prabowo

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Hadapi Harga Minyak Tinggi, Ini Strategi Presiden Prabowo

Ade Hapsari Lestarini • 19 March 2026 22:30

Hambalang: Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan saat Indonesia pertama kalinya melakukan efisiensi anggaran, bisa berhemat hingga Rp308 triliun. Efisiensi ini bahkan sebagian besar berasal dari Pemerintah Pusat.

"Saya ingin jelaskan, waktu pertama kita lakukan efisiensi, kita menghemat Rp308 triliun dari pusat sebagian besar ya. Dan dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan. Keyakinan saya itu semua Rp308 triliun ini kalau tidak potong, ini ke arah korupsi," ungkap Presiden dalam sesi tanya jawab dengan jurnalis dan ekonom di Hambalang, Jawa Barat, Kamis, 19 Maret 2026.

Presiden Prabowo menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Direktur Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Muhammad Faisal terkait dampak perang di Timur Tengah dengan ekonomi Indonesia.

Faisal menyebut, harga minyak dunia sudah beberapa kali tembus di atas level USD100 per barel. Tak hanya itu, rupiah pun sudah sempat menjangkau level Rp17 ribu per USD.

"Memang dampaknya ke pembengkakan subsidi energi itu bisa lebih dari Rp100 triliun tambahannya saja, Pak. Itu artinya kalau dibandingkan persentase terhadap PDB, berarti sudah tembus tiga persen. Saya mendengar dari media, Pak Prabowo ingin menahan itu, defisit APBN tidak tembus tiga persen.


Presiden Prabowo Subianto. Foto: dok YouTube.

 

 

Strategi Presiden hadapi kondisi ekonomi global


Faisal pun bertanya kepada Presiden Prabowo, terkait kondisi ekonomi saat ini, apakah akan kembali memberlakukan efisiensi anggaran atau melakukan refocusing anggaran.

"Apakah ada terpikir cara untuk refocusing. Misalnya, mengalihkan sebagian daripada program-program yang sudah ada yang banyak alokasi anggarannya, termasuk mungkin program prioritas, ke pos-pos yang sifatnya tanggap darurat ini, Pak," ujar Faisal.

Prabowo kemudian menjelaskan, jika berbicara ekonomi Indonesia, maka akan keluar angka ICOR atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia. ICOR mengukur efisiensi investasi, angka yang tinggi mencerminkan inefisiensi, sehingga diperlukan investasi besar untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu, Presiden mengungkapkan di awal masa pemerintahannya, pemerintah melakukan efisiensi besar-besaran terhadap anggaran negara. Melalui penghentian program yang dinilai tidak efektif dan meragukan, pemerintah berhasil menghemat sekitar USD18 miliar atau setara Rp308 triliun.

"Jadi, krisis ini, ya kita akan sesuaikan. Dengan krisis ini, memang, kita harus waspada, tapi banyak langkah yang kita lakukan, dan kebetulan juga, kita berada dalam posisi yang agak lebih baik dari negara lain," jelas Prabowo.

Hal itu ditandai dengan kontrak perdagangan dengan beberapa negara dari Afrika, Amerika Serikat. Presiden menyebut, kontrak perdagangan itu memiliki jangka waktu rata-rata satu tahun.

"Tapi benar, kalau perang ini berjalan lama, dan harga (minyak) di atas USD100, kita harus benar-benar lakukan langkah-langkah. Tapi, ini juga akan mempercepat strategi kita. Dari awal strategi saya, swasembada pangan, swasembada energi, swasembada air. Air kita cukup. Alhamdulillah. Banyak negara, di teluk itu, air saja nggak ada. Saudi Arabia tidak punya air," kata Presiden.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)