Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Tumbuh Stabil di Kisaran 5,1-5,3%
Richard Alkhalik • 12 May 2026 15:32
Jakarta: Perekonomian Indonesia mencatatkan kinerja impresif pada awal tahun. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan. Angka tersebut meningkat dari capaian kuartal IV 2025 yang berada di level 5,39 persen, sekaligus mencetak rekor laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III-2022.
Berdasarkan analisa Permata Institute for Economic Research (PIER), Selasa, 12 Mei 2026, memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif sepanjang 2026 akan stabil di rentang 5,1 hingga 5,3 persen.
Head, Macro Economic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rahman mengatakan intervensi fiskal yang kuat di awal tahun memang tepat untuk merespons guncangan. Namun, untuk menopang pertumbuhan jangka panjang, pemerintah harus mampu menarik aliran modal swasta agar tidak terjadi ketergantungan berlebih pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Jadi kita lihat kebijakan yang fiscal driven itu ke depannya dalam jangka menengah panjang itu harus dapat meng-crowding in private investment seperti itu,” kata Faisal.
Dalam rilis kuartal I-2026, PIER menyoroti fenomena aliran modal keluar (capital outflow) senilai USD1,79 miliar dari pasar domestik. Pelepasan aset tersebut merinci pada keluarnya dana sebesar USD1,48 miliar dari pasar obligasi dan USD1,95 miliar dari pasar saham.
Baca Juga :
Ekonomi Kuartal I Tumbuh Impresif, Penyerapan Tenaga Kerja dan Sektor Manufaktur Disorot
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Sentimen makroekonomi picu kecemasan investor
Meski diterpa gelombang keluarnya modal asing, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih sukses membuktikan diri sebagai peredam kejut atau shock absorber pasar dengan berhasil menarik arus modal masuk sebesar USD1,64 miliar.Turbulensi di pasar keuangan ini tidak lepas dari rentetan sentimen makroekonomi yang memicu kecemasan investor global. Sentimen tersebut meliputi pelemahan nilai tukar rupiah, eskalasi harga energi, tensi geopolitik, hingga ketidakpastian ruang pemangkasan suku bunga acuan.
Beruntung, ketahanan sektor jasa keuangan domestik dan tingginya optimisme masyarakat masih mampu menjadi bantalan ekonomi. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2026 bertahan tangguh di zona optimis pada level 123,0.
Penyaluran kredit perbankan juga tetap mencatatkan tren positif, meskipun diterapkan standar persetujuan yang jauh lebih ketat. Akan tetapi, daya tahan konsumsi ini dinilai perlu dijaga ekstra mengingat pelemahan rupiah dan inflasi energi berpotensi merambat pada melonjaknya harga barang impor, biaya logistik, serta ongkos produksi.
Secara keseluruhan, PIER menilai pertumbuhan PDB sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama merupakan capaian yang kredibel. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan ekonomi yang komprehensif. Fakta mengenai perlambatan belanja modal, sikap kehati-hatian dalam rekrutmen tenaga kerja, tekanan biaya produksi, pelemahan sektor manufaktur, hingga volatilitas pasar keuangan menjadi indikasi kualitas pertumbuhan ekonomi masih memerlukan perhatian serius.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan terkait wacana pertumbuhan ekonomi nasional di angka enam persen adalah sebagai skenario optimis pemerintah. Optimisme ini bertumpu pada kokohnya permintaan domestik, kendati pasar keuangan dalam negeri tengah dihadapkan pada volatilitas yang cukup tajam.
“Terkait dengan dorongan Menteri Keuangan untuk pertumbuhan enam persen itu dapat dipahami sebagai sinyal optimisme, itu penting sekali,” kata Josua.