Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. MetroTV/Ardhan Anugrah
Ekonomi Kuartal I Tumbuh Impresif, Penyerapan Tenaga Kerja dan Sektor Manufaktur Disorot
Richard Alkhalik • 12 May 2026 13:23
Jakarta: Di balik angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026 yang menyentuh 5,61 persen secara tahunan, terselip sejumlah sinyal kerentanan di sektor riil. Berdasarkan Analisis terbaru dari Permata Institute for Economic Research (PIER), Selasa, 12 Mei 2026, menyoroti kualitas penyerapan tenaga kerja dan performa industri manufaktur nasional yang harus menjadi perhatian.
Berdasarkan data ketenagakerjaan per Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) memang membaik di level 4,68 persen dengan total penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang. Namun, PIER mengingatkan bahwa terdapat pergeseran struktural yang patut diwaspadai. Proporsi pekerja formal tercatat menyusut 0,02 poin persentase, sementara jumlah pekerja paruh waktu justru meningkat 0,16 poin persentase. Kondisi ini mengindikasikan adanya perluasan sektor informal dan ancaman tekanan pendapatan bagi kelas menengah ke bawah.
Dalam analisa PIER juga menyebutkan kewaspadaan dunia usaha yang turut terekam di sektor manufaktur. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur pada April lalu anjlok ke zona kontraksi di level 49,1. Angka tersebut mencerminkan terjadinya penurunan output produksi, lonjakan beban biaya bahan baku, serta merosotnya tingkat optimisme pelaku industri.
Merespons dinamika tersebut, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menekankan adanya harmonisasi kebijakan lintas pemangku kepentingan.
"Ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tetap penting untuk menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar di tengah dinamika global. Pemerintah perlu menjaga daya beli, mempercepat belanja produktif, dan menjaga kredibilitas APBN. Bank Indonesia perlu terus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi sambil memastikan likuiditas mengalir ke sektor produktif. Sementara dunia usaha perlu menjaga efisiensi dan memperkuat rantai pasok tanpa mengorbankan tenaga kerja secara berlebihan. Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat kuat dalam angka, tetapi juga lebih terasa nyata dalam investasi, penciptaan pekerjaan formal, dan peningkatan pendapatan masyarakat,” kata Josua, dalam konferensi pers, Selasa, 12 Mei 2026.
.jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Sektor Penguat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026
Dalam laporannya PIER menunjukkan bahwa sektor akomodasi dan penyediaan makanan-minuman merajai pertumbuhan sektoral dengan torehan meroket di angka 13,14 persen secara tahunan, melesat jauh dari kuartal sebelumnya yang berada di 7,41 persen, diikuti oleh penguatan di sektor jasa lainnya, serta sektor transportasi dan pergudangan yang turut menikmati lonjakan mobilitas masyarakat.Sebaliknya, industri pengolahan yang menjadi tulang punggung terbesar PDB justru mengalami moderasi, melambat dari 5,40 persen menjadi 5,04 persen secara tahunan dan pada sektor pertambangan masih berada dalam tekanan akibat kebijakan pengendalian produksi pada sejumlah komoditas mineral utama.
Distribusi pertumbuhan yang positif juga tecermin pada level regional. Tiga wilayah utama berhasil mencetak angka pertumbuhan di atas rata-rata nasional yaitu 5,61 persen secara tahunan. Kawasan Bali dan Nusa Tenggara memimpin dengan laju 7,93 persen secara tahunan yang dipicu oleh normalisasi aktivitas pertambangan di Nusa Tenggara Barat.
Peringkat selanjutnya disusul oleh regional Sulawesi dengan angka 6,95 persen berkat kokohnya kinerja industri manufaktur setempat. Sementara itu, Pulau Jawa sebagai pusat gravitasi ekonomi nasional sukses mencatatkan pertumbuhan 5,79 persen secara tahunan yang didorong langsung oleh akselerasi konsumsi domestik.
Belanja Pemerintah Jadi Motor Utama
Akselerasi belanja pemerintah dongkrak pertumbuhan yang berhasil tumbuh di angka 5,61 persen secara tahunan.Tercatat, konsumsi rumah tangga menguat di angka 5,52 persen secara tahunan, terdongkrak oleh momentum Ramadan dan Idulfitri. Di sisi lain, belanja pemerintah melonjak tajam hingga 21,31 persen secara tahunan sebagai wujud realisasi fiskal awal tahun yang agresif, termasuk untuk menopang program strategis pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih didukung kuat oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Namun demikian, dinamika eksternal seperti perang dagang, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi global tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi stabilitas dan prospek pertumbuhan ke depan,” kata Josua.
Meski angka tahunan terlihat gemilang, PIER memberikan catatan bahwa secara triwulanan ekonomi nasional sejatinya masih terkontraksi sebesar 0,77 persen. Capaian impresif ini harus dibaca secara komprehensif dengan mempertimbangkan efek pembanding yang rendah atau low base effect pada kuartal I tahun 2025 serta faktor dorongan yang masih bersifat musiman.