Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. Foto: Metrotvnews.com
Dino Patti Djalal Kritik Serangan AS ke Iran, Picu Risiko Perang Global
Muhammad Reyhansyah • 13 March 2026 16:21
Jakarta: Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan militer Amerika Serikat (AS) yang menyerang Iran dan menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Ia menilai tindakan tersebut berpotensi mengguncang tatanan dunia dan menyeret kawasan Timur Tengah ke konflik yang lebih luas.
Dino menyatakan kekhawatirannya terhadap apa yang ia sebut sebagai munculnya nasionalisme Amerika yang agresif di bawah kepemimpinan Donald Trump.
“Kami khawatir dengan apa yang kami lihat sebagai nasionalisme Amerika yang macho dan agresif, yang cenderung merasa paling benar, kecanduan permainan berbahaya di ambang konflik, memiliki kecenderungan imperialis, serta mudah menggunakan kekuatan militer Amerika tanpa pertimbangan matang,” ujar Dino, dikutip dari pesan video di akun Instagram-nya pada Jumat, 13 Maret 2026.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI itu menilai kecenderungan tersebut membuat AS semakin sering terlibat dalam konflik bersenjata dan bahkan berperan sebagai negara agresor dalam sejumlah krisis internasional.
Dino juga secara tegas mengutuk serangan militer AS dan Israel yang menewaskan Ali Khamenei. Menurutnya, pembunuhan terhadap pemimpin negara lain tidak dapat dibenarkan dalam sistem hukum internasional.
“Ini bukan soal pro-Iran atau anti-Iran. Indonesia memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat maupun Iran. Namun, tidak ada pemimpin negara mana pun, sekuat apa pun, yang berhak merencanakan dan melaksanakan pembunuhan terhadap pemimpin negara lain,” kata Dino.
Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut melanggar norma internasional, termasuk prinsip dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menekankan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Menurut Dino, jika praktik pembunuhan pemimpin negara lain dianggap sah, maka hal tersebut berpotensi menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional.
“Jika tindakan militer langsung untuk membunuh pemimpin negara asing kini dianggap sebagai sesuatu yang sah, maka setiap negara dari 193 negara di dunia juga bisa menganggap tindakan serupa sebagai hal yang wajar,” ujarnya.
Ia memperingatkan bahwa logika tersebut dapat membuka jalan menuju konflik global yang lebih besar, bahkan berpotensi menyeret dunia ke perang besar seperti yang pernah terjadi pada abad ke-20.
Ancaman Krisis Ekonomi Global
Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, lanjut Dino, telah memicu respons militer dari Teheran dan memperluas risiko konflik di kawasan Timur Tengah.Ia menyebut ketegangan kini telah menyebar ke sejumlah negara di kawasan, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Oman, Kuwait, Irak, Yordania, Turki, Lebanon, Suriah, hingga Siprus.
“Ketidakstabilan dan potensi konflik baru kini membayangi kawasan Timur Tengah,” kata Dino.
Selain dampak geopolitik, Dino juga menyoroti potensi dampak ekonomi global dari konflik tersebut, termasuk bagi Indonesia.
Ia memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik dapat memicu tekanan terhadap anggaran negara, meningkatkan inflasi, serta memperburuk kondisi ekonomi masyarakat.
“Akibat kenaikan harga minyak, Indonesia akan menghadapi tekanan terhadap anggaran negara, peningkatan inflasi, kenaikan harga pangan, bertambahnya pengangguran, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Menurut Dino, jika konflik berlangsung lama dan harga minyak terus melonjak, dunia berisiko memasuki resesi global yang dapat mendorong ratusan juta orang kembali jatuh ke dalam kemiskinan.
Ia pun menyerukan kepada Trump agar menghentikan eskalasi konflik dan tidak terpengaruh oleh kepentingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Hentikan kegilaan ini. Akhiri hasutan perang. Jangan mendorong dunia menuju jurang kegelapan. Hentikan serangan terhadap Iran, dan berhentilah dimanipulasi oleh Perdana Menteri Netanyahu untuk memenangkan pertempurannya,” tegas Dino.
Dalam pernyataannya, ia juga menyinggung perlunya penyelesaian konflik Timur Tengah secara menyeluruh, termasuk melalui solusi dua negara untuk Palestina.
Konfrontasi terbuka antara Iran dan aliansi AS-Israel ini meletus sejak Sabtu, 28 Februari 2026. Perang dipicu oleh serangan udara masif AS-Israel ke Teheran yang melumpuhkan struktur kekuasaan Iran dan menewaskan sejumlah tokoh kunci, termasuk Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah negara Teluk, yang kini meningkatkan ketegangan dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.