Potensi Panas Bumi Melimpah, Indonesia Perlu Maksimalkan PLTP

PLTP Kamojang. Foto: Metrotvnews.com/Husen.

Potensi Panas Bumi Melimpah, Indonesia Perlu Maksimalkan PLTP

Husen Miftahudin • 17 October 2026 14:52

Jakarta: Indonesia memiliki potensi energi panas bumi atau geothermal yang besar karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Namun, pemanfaatan energi tersebut masih perlu ditingkatkan, disertai edukasi kepada masyarakat mengenai proses pengelolaan dan potensi dampak pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

Pakar hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Lambok M. Hutasoit mengatakan Indonesia masih memiliki banyak sumber daya panas bumi yang dapat dikembangkan, termasuk di Jawa Barat.

"Banyak sekali. Potensi panas bumi Indonesia itu sangat besar. Di Indonesia, salah satu wilayah dengan potensi panas bumi paling besar adalah Jawa Barat. Provinsi-provinsi lain juga memiliki potensi panas bumi. Jadi, memang masih sangat banyak yang bisa dikembangkan," ujar Lambok, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Menurut dia, pengembangan panas bumi perlu disertai pemahaman masyarakat mengenai karakteristik geologi, sistem reservoir, dan pengelolaan sumber daya air di sekitar wilayah operasi.

Lambok menjelaskan, kekhawatiran mengenai kemungkinan aktivitas PLTP mengurangi ketersediaan air tanah perlu dikaji berdasarkan kondisi geologi di setiap lokasi. Reservoir panas bumi yang dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik umumnya berada pada lapisan batuan berbeda dari akuifer dangkal yang menjadi sumber air rumah tangga.

"Reservoir panas bumi dengan akuifer air tanah itu kebanyakan tidak berhubungan secara langsung. Jadi, tidak bisa begitu saja dikatakan bahwa ketika reservoir panas bumi dimanfaatkan, air tanah di atasnya otomatis akan ikut tersedot," jelasnya.

Ia menerangkan, lapisan batuan bawah permukaan memiliki karakteristik berbeda. Sebagian lapisan dapat meloloskan air, sedangkan lapisan lainnya menghambat pergerakan fluida.

Meski demikian, hubungan hidrologis antara reservoir panas bumi dan akuifer tetap perlu diteliti. Dalam kondisi geologi tertentu, kedua sistem tersebut dapat saling terhubung sehingga pengelolaan air dan pemantauan lingkungan perlu dilakukan sesuai karakteristik lokasi.
 

 

Kamojang jadi contoh pengembangan panas bumi


Lambok mencontohkan PLTP Kamojang di Jawa Barat yang telah beroperasi secara komersial sejak 1983. Kawasan tersebut juga dikunjungi Staf Khusus Wakil Presiden sekaligus Komisaris Pertamina Patra Niaga Tina Talisa, untuk melihat proses produksi listrik panas bumi, termasuk pengelolaan air dan sistem pengeboran.

Melalui akun Instagram pribadinya, Tina menyebut Kamojang sebagai PLTP pertama di Indonesia yang kini memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 235 megawatt (MW).

"Kamojang bukan hanya cerita tentang pembangkit listrik. Selama puluhan tahun, pengembangan panas bumi di sini tumbuh berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya," tulis Tina melalui akun Instagram @tina_talisa.

Pengalaman pengembangan Kamojang menjadi salah satu contoh pemanfaatan panas bumi dalam sistem kelistrikan nasional. Meski demikian, kondisi geologi dan pengelolaan lingkungan di setiap lokasi PLTP perlu dinilai berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.

Untuk mendukung keberlanjutan produksi, Lambok menjelaskan pentingnya mekanisme reinjeksi, yaitu mengembalikan fluida sisa produksi ke reservoir. Langkah tersebut dapat membantu mempertahankan tekanan reservoir atau pressure maintenance.

"Metode itu sangat membantu. Justru itu memang disarankan dan harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pengembang panas bumi. Tujuannya untuk menjaga tekanan reservoir. Istilahnya pressure maintenance," ujar Lambok.

Selain reinjeksi, perlindungan kawasan resapan air juga menjadi aspek penting dalam pengelolaan panas bumi. Lambok merujuk pada penelitiannya di Wayang Windu, Jawa Barat, yang menggunakan analisis isotop air untuk mengidentifikasi daerah resapan.

Informasi mengenai daerah resapan dapat membantu memahami asal dan pergerakan air serta mendukung penyusunan langkah perlindungan sumber daya air di sekitar wilayah pengembangan panas bumi.

Perkuat Transisi Energi, INAGA Dorong Sinergi Industri Panas Bumi

(Ilustrasi energi panas bumi. Foto: dok PGE)

 

Pemanfaatan panas bumi mesti digenjot


Lambok memperkirakan pemanfaatan panas bumi Indonesia masih berada di kisaran 10 persen dari keseluruhan potensinya. Karena itu, pengembangan sumber daya tersebut dinilai masih memiliki ruang untuk diperluas.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dikutip dalam materi sumber, potensi panas bumi Indonesia mencapai 23,2 gigawatt (GW), sedangkan kapasitas yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik sekitar 2,78 GW.

Besarnya potensi tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan lingkungan dan komunikasi publik yang memadai. Menurut Lambok, masyarakat perlu memperoleh penjelasan mengenai sistem panas bumi, susunan lapisan batuan, serta bagian yang dimanfaatkan dalam proses produksi energi.

Penyampaian informasi tersebut diharapkan membantu masyarakat memahami manfaat panas bumi sekaligus mengetahui langkah pengelolaan risiko yang dilakukan di sekitar wilayah operasi PLTP.

(Husen Miftahudin)