AI Tak Hanya Butuh Air yang Banyak, Simak Penjelasan Guru Besar UI

Ilustrasi AI. Foto: Unsplash

AI Tak Hanya Butuh Air yang Banyak, Simak Penjelasan Guru Besar UI

Muhamad Marup • 30 September 2026 20:44

Jakarta: Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ternyata tidak hanya membutuhkan listrik dan perangkat komputasi. Teknologi ini juga membutuhkan air dalam proses pendinginan pusat data yang menjalankan berbagai layanan AI.

Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Agustino Zulys menjelaskan bahwa pusat data atau data center harus menjaga suhu perangkat tetap stabil karena proses komputasi menghasilkan panas.

"Data center AI butuh air bersih, tapi bukan untuk diminum melainkan untuk mendinginkan agar otaknya tidak kepanasan," kata Zulys dalam video Behind the Science yang diunggah melalui akun Instagram @Prof.Zulys.

Mengapa AI Membutuhkan Air?

Ketika seseorang memberikan perintah atau prompt kepada AI, sistem akan menjalankan proses komputasi di dalam data center. Ribuan chip bekerja untuk memproses permintaan tersebut dalam waktu singkat.

Zulys menjelaskan bahwa chip menjalankan miliaran operasi yang membutuhkan listrik. Proses tersebut kemudian menghasilkan panas sehingga perangkat membutuhkan sistem pendinginan.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti mahasiswa yang sedang menghadapi ujian. Semakin berat proses berpikir yang dilakukan, semakin banyak panas yang dihasilkan.

"Makin berat mikirnya, makin panas kepalanya. Kalau tidak segera didinginkan, mesin data bisa rusak," ujarnya.

Dalam sistem pendinginan tertentu, air membantu menyerap dan membuang panas dari perangkat di data center. Air memiliki kapasitas panas yang tinggi sehingga dapat digunakan untuk membantu menjaga suhu sistem tetap terkendali.

Air yang Digunakan Harus Bersih

Penggunaan air dalam data center tidak berarti AI secara langsung "meminum" air setiap kali seseorang mengirimkan prompt. Air digunakan sebagai bagian dari sistem pendinginan.

Air yang digunakan dalam proses tersebut harus memiliki kualitas yang sesuai karena penggunaan air yang tidak tepat dapat berdampak pada perangkat. Air untuk kebutuhan pendinginan tersebut bukan berasal langsung dari sungai, danau, atau laut.

Zulys juga mengutip studi dari University of California, Riverside dan University of Colorado yang memperkirakan model AI seperti GPT-3 membutuhkan sekitar setengah liter air untuk menghasilkan 50 respons atau sekitar 50 mililiter untuk satu jawaban.

Namun, angka tersebut merupakan perkiraan yang dapat berbeda bergantung pada berbagai faktor, termasuk sistem pendinginan, lokasi data center, efisiensi perangkat, dan beban kerja.

Penggunaan AI dalam Skala Besar

Perkembangan AI Makin Pesat, Pemerintah di Dunia Semakin Tertinggal

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Kebutuhan air menjadi lebih besar ketika layanan AI digunakan oleh banyak orang dalam waktu yang sama. Sebuah data center berkapasitas 100 megawatt dapat menggunakan sekitar dua juta liter air per hari untuk kebutuhan pendinginan atau setara dengan kebutuhan sekitar 6.500 rumah tangga.

Skala penggunaan inilah yang membuat konsumsi air menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan seiring meningkatnya pemanfaatan AI.

Artinya, satu prompt mungkin hanya membutuhkan sumber daya dalam jumlah kecil. Namun, ketika jutaan permintaan diproses setiap hari, kebutuhan energi dan air untuk mendukung infrastrukturnya juga ikut meningkat.

Bagaimana Mengurangi Penggunaan Air untuk AI?

Zulys mengatakan penggunaan AI tidak harus dihentikan. Menurutnya, pengembangan teknologi perlu berjalan bersamaan dengan upaya meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.

Salah satu caranya dengan menerapkan sistem pendinginan siklus tertutup dan menggunakan kembali air yang sudah tersedia. Pengembang data center juga perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan dan ketersediaan sumber daya air ketika menentukan lokasi pembangunan.

Dari sisi pengguna, masyarakat juga dapat berkontribusi dengan mengurangi penggunaan AI untuk hal-hal yang sebenarnya dapat dikerjakan sendiri. Pengguna dapat mempertimbangkan kebutuhan sebelum mengirimkan prompt dan menggunakan AI sesuai dengan beban pekerjaan yang memang memerlukannya. Zulys mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tetap memiliki batas. Manusia perlu mengelola teknologi sekaligus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

"Kita tidak harus berhenti menggunakan AI. Tapi kita juga tidak perlu menggunakannya untuk semua hal. Sehebat apa pun AI, kita masih bisa hidup tanpa AI. Tapi kita tidak bisa hidup tanpa air," kata Zulys.


(Siti Nahdia Usman)

(Muhamad Marup)