Kecamatan Bolo di Bima Alami 155 Hari Tanpa Hujan

Ilustrasi kekeringan

Kecamatan Bolo di Bima Alami 155 Hari Tanpa Hujan

Lukman Diah Sari • 27 October 2026 16:59

Bima: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami 155 Hari Tanpa Hujan (HTH). Sementara itu, hujan mulai mengguyur delapan kecamatan di wilayah Bima dan Dompu.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima Moch. Syaiful Annas mengatakan kondisi tersebut menunjukkan hujan mulai terjadi di sejumlah wilayah meskipun kekeringan berkepanjangan masih menjadi perhatian.

"Berdasarkan pemutakhiran Dasarian II Oktober 2026 dari Stasiun Klimatologi NTB, Kecamatan Bolo mencatat periode HTH terpanjang selama 155 hari sejak 18 Mei 2026," kata dia di Bima, Selasa, 27 Oktober 2026, melansir Antara.

Ia menjelaskan periode panjang tanpa hujan tersebut menggambarkan kondisi kekeringan meteorologis yang perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi ketersediaan air dan meningkatkan kerentanan vegetasi terhadap kebakaran. Di sisi lain berdasarkan pemantauan radar cuaca Stasiun Meteorologi Bima, pada Selasa, 27 Oktober 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terpantau terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bima dan Dompu.

"Delapan kecamatan tersebut meliputi Langgudu, Monta, Donggo, Madapangga, dan Lambitu di Kabupaten Bima, serta Pekat, Pajo, dan Woja di Kabupaten Dompu," ujar dia.

Annas mengatakan hujan yang mulai terjadi di sejumlah wilayah merupakan perkembangan kondisi cuaca yang perlu terus dipantau setelah periode kemarau berkepanjangan. Namun turunnya hujan di beberapa kecamatan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa kondisi kekeringan telah berakhir secara menyeluruh.

"Hal itu karena distribusi curah hujan dapat berbeda antar-lokasi, baik dari segi intensitas, durasi, maupun cakupan wilayah," jelas dia.

Peta sebaran hari tanpa hujan di Nusa Tenggara Barat. (ANTARA/HO-Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima)

Selain berpotensi membantu mengurangi dampak kekeringan, hujan juga dapat berkontribusi terhadap berkurangnya partikel di atmosfer yang menyebabkan fenomena udara kabur di wilayah Bima dan Dompu. Menurut dia, partikel yang melayang di udara dapat terbawa turun bersama air hujan melalui proses deposisi basah sehingga berpotensi memperbaiki jarak pandang.

Meski hujan mulai turun, BMKG mengingatkan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan dengan vegetasi yang telah mengering akibat kemarau panjang.

Kondisi vegetasi kering yang disertai angin kencang dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran. Karena itu masyarakat diminta menghindari aktivitas pembakaran terbuka, termasuk pembakaran sampah, semak, dan lahan, serta kegiatan lain yang berpotensi menimbulkan percikan api.

BMKG juga mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi ancaman kekurangan air bersih selama kondisi kekeringan masih berlangsung. Selain itu pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan terus memperhatikan perkembangan informasi cuaca sebagai bagian dari langkah kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi atmosfer.

(Lukman Diah Sari)