IDAI: 86 Persen Kematian Akibat Campak Disebabkan Komplikasi Paru

Ilustrasi - Campak. Foto: ANTARA/Shutterstock.

IDAI: 86 Persen Kematian Akibat Campak Disebabkan Komplikasi Paru

Fachri Audhia Hafiez • 1 March 2026 16:45

Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat menegaskan bahwa campak bukanlah penyakit ringan yang hanya ditandai dengan demam dan ruam. Penyakit yang menular melalui percikan udara ini memiliki risiko komplikasi fatal, mulai dari infeksi paru-paru berat hingga gangguan saraf permanen yang dapat muncul bertahun-tahun pascainfeksi.

Campak itu bukanlah penyakit ringan-ringan saja. Komplikasi bisa berat dan juga daya tahan tubuh bisa sangat menurun sehingga membuka masuknya terjadinya penyakit lain,” ujar Ketua IDAI Jawa Barat, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), dikutip dari Antara, Minggu, 1 Maret 2026.
 


Prof. Anggraini menyoroti data mengkhawatirkan di mana pada 2025 tercatat 11.094 kasus konfirmasi campak dari 63.769 suspek. Memasuki lima pekan pertama 2026, sudah terdapat 379 kasus konfirmasi dengan 5.329 suspek. Tingginya angka suspek ini bahkan membuat fasilitas laboratorium di Indonesia mengalami kewalahan (overwhelmed) dalam menguji spesimen.

Salah satu komplikasi paling mematikan dari campak adalah pneumonia. Data menunjukkan sekitar 77 persen anak yang dirawat di rumah sakit akibat campak mengalami infeksi paru, bahkan banyak yang membutuhkan bantuan alat pernapasan atau ventilator.

“Kita mendapatkan pasien-pasien yang sampai masuk ke ventilasi mekanik. Bayangkan 86 persen dari campak yang meninggal itu disebabkan oleh pneumonia,” tutur Anggraini.

Selain paru-paru, virus campak dapat menyerang otak dan menyebabkan kematian atau dampak jangka panjang berupa Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE). SSPE adalah gangguan saraf progresif yang merusak otak dan dapat muncul hingga 23 tahun setelah seseorang terinfeksi campak. Virus ini juga memicu immunological amnesia, di mana sistem imun anak kehilangan "memori" untuk melawan penyakit yang pernah dihadapi sebelumnya.


Ilustrasi - Seorang anak menerima imunisasi campak. Foto: ANTARA/HO - Kemenkes.

“Begitu masuk virus campak, maka diserang oleh berbagai daya tahan tubuh agar bisa meredam si virus. Berbagai potensial imun yang berperan juga ikut habis dan fungsinya berkurang. Akhirnya kemampuan daya tahan tubuh untuk training dia menghadapi penyakit menjadi turun,” imbuh Anggraini.

IDAI mengingatkan bahwa risiko komplikasi berat ini jauh lebih tinggi pada anak dengan gizi buruk, belum diimunisasi, atau memiliki penyakit penyerta (komorbid). Campak juga dapat menyebabkan kebutaan akibat pengikisan kadar vitamin A, dehidrasi parah karena diare, hingga ketulian permanen akibat kerusakan pada telinga.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)