Netanyahu Tegaskan Israel Tak Akan Tarik Pasukan dari Wilayah Lebanon

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: EPA-EFE

Netanyahu Tegaskan Israel Tak Akan Tarik Pasukan dari Wilayah Lebanon

Muhammad Reyhansyah • 19 June 2026 19:48

Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan militer negaranya tidak akan menarik pasukan dari wilayah yang diduduki di Lebanon selatan, meskipun kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mencakup jaminan terhadap kedaulatan Lebanon.

Dalam pernyataan yang dikutip harian Yedioth Ahronoth pada Kamis, 18 Juni 2026, Netanyahu mengatakan Israel akan terus mempertahankan kehadiran militernya selama masih dibutuhkan untuk menjamin keamanan negara tersebut.

“Israel akan memulihkan keamanan di wilayah utara,” kata Netanyahu, dikutip dari Anadolu.

“Hal itu mengharuskan dipertahankannya sabuk keamanan di Lebanon selatan, dan itu berarti kami tidak akan mundur selama kebutuhan keamanan Israel masih mengharuskannya,” lanjut Netanyahu.

Sebelumnya pada Kamis, militer Israel merilis peta yang menunjukkan pendudukannya atas wilayah yang membentang hingga 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon selatan. Israel menyatakan akan mempertahankan keberadaannya di kawasan yang disebut sebagai “zona keamanan”.

Berdasarkan peta tersebut, pasukan Israel ditempatkan di sejumlah sektor perbatasan yang mencakup beberapa kota di Lebanon selatan, dengan kedalaman penetrasi antara enam hingga 10 kilometer.

Di beberapa wilayah bagian barat dan tengah, pendudukan bahkan mencapai hampir 10 kilometer dan meluas ke arah utara hingga mendekati Sungai Litani di sejumlah titik.

Israel juga masih menduduki beberapa wilayah di Lebanon yang sebagian telah dikuasai selama puluhan tahun, sementara sebagian lainnya direbut dalam perang 2023-2024.

Netanyahu mengklaim salah satu tujuan utama kebijakan Israel adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

“Pertempuran ini belum berakhir. Israel masih menghadapi tantangan tambahan,” ujarnya.

Bertentangan dengan Kesepakatan AS-Iran

Pernyataan Netanyahu disampaikan meski klausul pertama nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Washington dan Teheran menyerukan “penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon”, serta menjamin integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.

Kesepakatan akhir tersebut juga diharapkan dapat mengakhiri perang secara permanen di seluruh front, termasuk Lebanon.

Pada Rabu malam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani secara elektronik “Memorandum of Understanding Islamabad” yang dimaksudkan untuk membuka jalan bagi berakhirnya perang antara Washington dan Teheran.

Mediator dari Pakistan kemudian mengumumkan bahwa memorandum tersebut telah mulai berlaku, dengan Iran membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional sebagai imbalan atas pencabutan bertahap blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran.

Perundingan damai antara perwakilan AS dan Iran yang semula dijadwalkan berlangsung di resor Bürgenstock, Swiss, pada Jumat hari ini untuk membahas implementasi MoU tersebut akhirnya ditunda.

Kementerian Luar Negeri Swiss menyatakan pembicaraan antara Amerika Serikat, Iran, Qatar, dan Pakistan belum dibatalkan secara permanen dan akan dijadwalkan ulang. Penundaan itu diumumkan tidak lama setelah Gedung Putih menyatakan Wakil Presiden AS JD Vance tidak akan berangkat ke Swiss karena rincian logistik terkait perundingan teknis dengan Iran masih belum terselesaikan.

(Fajar Nugraha)