Sebuah sesi sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat. (Anadolu Agency)
DK PBB Khawatir Terjadi Kekejaman Massal di Sudan, RSF Diminta Mundur
Willy Haryono • 21 June 2026 15:48
New York: Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menyatakan keprihatinan atas risiko "kekejaman massal yang akan segera terjadi" di Sudan dan mendesak Pasukan Dukungan Cepat (RSF) segera menghentikan serangan terhadap Kota El-Obeid.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan Sabtu, anggota Dewan Keamanan PBB meminta RSF segera menghentikan pengepungan dan operasi militer di kota tersebut.
“Anggota Dewan Keamanan menyampaikan keprihatinan atas risiko kekejaman massal yang akan segera terjadi dan menuntut RSF segera menghentikan serangannya terhadap El-Obeid,” ujar pernyataan DK PBB, seperti dilansir dari Asharq al-Awsat, Minggu, 21 Juni 2026.
Dewan Keamanan juga menyerukan agar seluruh pihak yang terlibat konflik segera menghentikan pertempuran.
Kota El-Obeid yang berada di wilayah Kordofan selatan telah dikepung selama beberapa bulan oleh RSF, kelompok paramiliter yang berperang melawan militer Sudan sejak April 2023.
Perserikatan Bangsa-Bangsa khawatir situasi di El-Obeid dapat berkembang menjadi tragedi kemanusiaan serupa dengan yang terjadi di Kota El-Fasher pada Oktober 2025.
PBB sebelumnya menyatakan serangan terhadap El-Fasher menunjukkan karakteristik yang menyerupai tindakan genosida.
Utusan PBB Lakukan Upaya Diplomatik
PBB mengungkapkan bahwa Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Sudan, Pekka Haavisto, telah berbicara langsung dengan pemimpin RSF, Mohamed Hamdan Daglo, untuk mendesaknya agar tidak melancarkan serangan ke El-Obeid.Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan Haavisto menekankan pentingnya meredakan situasi dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk kondisi kemanusiaan.
“Haavisto menekankan perlunya segera meredakan situasi di El-Obeid dan menghindari tindakan apa pun yang dapat memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah sangat parah serta membahayakan lebih banyak nyawa warga sipil,” kata Dujarric.
Menurut PBB, organisasi kemanusiaan saat ini juga tengah mempersiapkan kemungkinan terjadinya gelombang pengungsian besar-besaran apabila pertempuran semakin meluas.
Dujarric mengatakan para pekerja kemanusiaan sedang bersiap menghadapi skenario terburuk sembari berharap situasi dapat membaik melalui jalur diplomasi.
Selain berkomunikasi dengan RSF, Haavisto juga disebut menjalin kontak dengan sejumlah negara yang memiliki pengaruh terhadap pihak-pihak yang bertikai untuk mendorong dialog dan mencegah serangan terhadap El-Obeid.
Krisis Kemanusiaan Terbesar di Dunia
Konflik antara militer Sudan dan RSF yang berlangsung sejak April 2023 telah menyebabkan puluhan ribu orang tewas dan memaksa lebih dari 11 juta orang meninggalkan rumah mereka.PBB menyebut konflik tersebut telah memicu krisis pengungsian dan kelaparan terbesar di dunia saat ini.
Sejumlah organisasi kemanusiaan internasional berulang kali memperingatkan bahwa memburuknya situasi keamanan di Sudan dapat memperparah penderitaan jutaan warga sipil yang sudah terdampak perang berkepanjangan.
Baca juga: Serangan Drone Pemberontak di Sudan Selatan Hancurkan Pasokan Medis