Pasukan Israel dalam operasi darat di Gaza. (Anadolu Agency)
Israel Gelar Operasi Militer Besar Cari Sandera Terakhir di Gaza
Willy Haryono • 26 January 2026 06:46
Gaza: Israel mengatakan bahwa militernya telah melancarkan “operasi berskala besar” untuk mencari sandera terakhir di Jalur Gaza, di tengah tekanan dari Amerika Serikat dan para mediator lain agar Israel dan Hamas segera memasuki fase berikutnya dari gencatan senjata.
Dikutip dari France 24, Senin, 26 Januari 2026, pernyataan itu disampaikan saat kabinet Israel menggelar pertemuan untuk membahas kemungkinan pembukaan kembali penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza dengan Mesir. Hal ini terjadi sehari setelah utusan tinggi AS bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu guna membahas langkah selanjutnya.
Pemulangan sandera terakhir, Ran Gvili, selama ini dipandang sebagai faktor kunci untuk membuka jalan menuju pembukaan penyeberangan Rafah, yang akan menandai dimulainya fase kedua gencatan senjata yang dimediasi AS.
Pada Minggu malam, kantor Netanyahu menyatakan bahwa setelah operasi pencarian ini “diselesaikan dan sesuai dengan kesepakatan dengan Amerika Serikat, Israel akan membuka penyeberangan Rafah.”
Pemulangan seluruh sandera yang tersisa, baik dalam keadaan hidup maupun meninggal, merupakan bagian utama dari fase pertama gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober. Sebelum Minggu, sandera sebelumnya berhasil ditemukan pada awal Desember.
Meski Israel sebelumnya telah melakukan upaya pencarian terhadap Gvili, kali ini militer merilis informasi lebih rinci. Militer Israel menyebut sedang melakukan pencarian di sebuah pemakaman di Gaza utara dekat Yellow Line, yang menandai wilayah-wilayah di Gaza yang dikuasai Israel.
Tuduhan Israel terhadap Hamas
Seorang pejabat militer Israel secara terpisah mengatakan bahwa Gvili kemungkinan dimakamkan di wilayah Shujaiyya–Daraj Tuffah. Para rabi dan ahli forensik gigi dikerahkan bersama tim pencari khusus. Pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena operasi masih berlangsung.Keluarga Gvili mendesak pemerintah Netanyahu agar tidak memasuki fase kedua gencatan senjata sebelum jasad Gvili dipulangkan.
Namun tekanan terus meningkat, dan pemerintahan Trump dalam beberapa hari terakhir telah menyatakan bahwa fase kedua gencatan senjata sebenarnya sudah berjalan.
Israel berulang kali menuduh Hamas mengulur waktu dalam upaya pemulihan sandera terakhir. Hamas dalam pernyataan pada Minggu mengatakan pihaknya telah memberikan semua informasi yang dimiliki terkait jasad Gvili, serta menuduh Israel menghambat upaya pencarian di wilayah Gaza yang berada di bawah kendali militer Israel.
Sementara itu, kantor pusat Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Yerusalem Timur dilaporkan dibakar pada malam hari, beberapa hari setelah buldoser Israel merobohkan sebagian kompleks tersebut.
Belum diketahui siapa yang memulai kebakaran. Namun, pemukim Israel terlihat pada malam hari menjarah gedung utama dan mengambil perabotan, kata Roland Friedrich, Direktur UNRWA untuk Tepi Barat. Ia juga menyebut pagar kompleks tersebut dilubangi di beberapa titik.
Penutupan UNRWA
Dinas pemadam kebakaran Israel mengatakan pihaknya mengirim tim untuk mencegah api meluas. Pada Mei 2024, UNRWA menyatakan menutup kompleks tersebut setelah para pemukim membakar pagar fasilitas itu.Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan kepada Associated Press bahwa insiden ini merupakan “serangan terbaru terhadap PBB dalam upaya berkelanjutan untuk membongkar status pengungsi Palestina.”
Mandat UNRWA adalah memberikan bantuan dan layanan kepada sekitar 2,5 juta pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat yang diduduki Israel, dan Yerusalem Timur, serta sekitar 3 juta pengungsi lainnya di Suriah, Yordania, dan Lebanon.
Namun, operasional badan tersebut dibatasi tahun lalu setelah parlemen Israel (Knesset) mengesahkan undang-undang yang memutus hubungan dan melarang UNRWA beroperasi di wilayah yang didefinisikan Israel sebagai bagian dari negaranya, termasuk Yerusalem Timur.
Israel selama ini menuduh UNRWA disusupi Hamas dan mengklaim sejumlah pegawainya terlibat dalam serangan 2023 yang memicu perang dua tahun di Gaza. Pimpinan UNRWA menyatakan telah mengambil tindakan cepat terhadap pegawai yang dituduh terlibat, serta membantah tuduhan bahwa badan tersebut mentoleransi atau bekerja sama dengan Hamas.
Baca juga: Mesir Desak Israel Tarik Diri dari Gaza dan Buka Penyeberangan Rafah