Ilustrasi. Foto: MI.
Editorial MI: Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia
Media Indonesia • 21 March 2026 05:40
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri. Satu bulan lamanya, kaum muslimin dan muslimat berpuasa bukan semata-mata menahan lapar dan haus, melainkan berlatih menguasai diri untuk menjadi manusia bertakwa.
Momen itulah yang kemudian dirayakan di hari kemenangan ini, Idul Fitri 1447 H. Ini adalah sebuah ajang sarat makna karena telah kembali ke fitrah, menjadi orang berhati bersih yang terbebas dari dendam dan iri, serta menghadirkan diri dalam versi terbaik kita.
Idul Fitri sekaligus menjadi momentum memperkuat silaturahim dan menjalani kembali tradisi saling memaafkan di antara anggota keluarga, sahabat, dan tetangga. Kita bahkan diajak untuk berbagi kebahagiaan demi memperkokoh solidaritas anak bangsa.
Umat Islam di hari yang fitri ini diingatkan untuk menyebarkan dan memancarkan takwa yang dipelajari selama Ramadan. Ketakwaan itu jangan berhenti hanya di diri sendiri, justru harus terlihat nyata saat kembali hidup bermasyarakat.
Baca Juga :
Buka Lembaran Baru di Hari yang Fitri
Bantuan sekecil apa pun, baik berupa makanan maupun sekadar perhatian, merupakan perwujudan nyata dari nilai takwa terhadap Sang Maha Pencipta. Orang lain yang ditolong kemudian merasa semakin bersyukur karena bebannya menjadi lebih ringan.
Idul Fitri, pada akhirnya, bukan hanya kemenangan spiritual, melainkan juga kemenangan atas kemanusiaan. Idealnya orang yang terbantu karena sudah terangkat bebannya akan terpanggil untuk menebar kebaikan kepada orang lain.
Dengan demikian, lingkaran kepedulian terus berlanjut dan semangat untuk memperkuat ikatan sosial bakal semakin menguat. Dari ruang lingkup yang terdekat, solidaritas itu menular hingga ke ruang yang lebih luas lagi yakni sesama anak bangsa.
Kita pun mendorong agar lingkaran kepedulian jangan terputus karena kesibukan pascamudik atau tekanan ekonomi setelah masa liburan selesai. Solidaritas, yang merupakan cerminan takwa, itu harus terus terjaga di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi Hari Raya Idulfitri. Foto: Freepik.
Tentunya seruan ini tidak hanya diarahkan kepada masyarakat biasa. Para pemegang kebijakan, pemegang tampuk kekuasaan, dan mereka yang berperan menentukan arah bangsa memiliki tanggung jawab untuk meneguhkan kepedulian dalam setiap keputusan.
Harus diingat bahwa kita tidak bisa mengandalkan kesalehan individu sebagai pengganti jaring pengaman sosial. Sebab, ketika ekonomi sulit, orang cenderung kembali ke mode bertahan hidup. Oleh karena itu, narasi kepedulian mesti ditopang dengan sistem ekonomi yang adil.
Tanpa sistem ekonomi yang adil, empati dan solidaritas hanya menjadi nilai moral yang rapuh. Pengelola negara diingatkan agar hadir dan serius melayani rakyat. Misalnya dalam hal menghadirkan akses modal yang terjangkau serta kepastian upah yang layak.
Kebaikan individu yang dipancarkan di momen Idul Fitri hanya akan bersifat paliatif ketika negara berlindung di balik kedermawanan warganya. Kepedulian antartetangga, sekuat apa pun, tidak akan mampu menahan laju inflasi dan beratnya tekanan ekonomi.
Baca Juga :
Makna Idulfitri
Sistem politik yang adil akan memandu anggaran negara untuk berpihak kepada kaum rentan. Melalui sistem politik, lingkaran kepedulian di tingkat RT/RW yang diawali dari momen Idul Fitri bisa naik menjadi kebijakan nasional.
Dengan sistem hukum berkeadilan, masyarakat akan semakin bersemangat membantu sesama. Modal sosial akan hancur karena warga merasa sia-sia menjadi orang baik di tengah sistem yang curang. Akhir kata, selamat Idul Fitri, Selamat merayakan kemenangan.