NATO tolak bantu AS hadapi Iran di Selat Hormuz. Foto: EFE
NATO dan Sekutu Barat Kompak Tolak Desakan Trump Kirim Pasukan ke Selat Hormuz
Fajar Nugraha • 17 March 2026 10:19
London: Sejumlah negara anggota NATO dan sekutu Barat secara resmi menolak permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melibatkan aliansi militer tersebut dalam misi pembukaan kembali Selat Hormuz.
Jalur distribusi minyak mentah vital tersebut saat ini masih ditutup efektif oleh Iran seiring berkecamuknya perang.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengatakan bahwa London memang sedang menyusun rencana kolektif yang layak untuk memulihkan navigasi di kawasan tersebut. Namun, ia secara tegas mengecualikan keterlibatan NATO dalam misi tersebut.
"Saya tegaskan: itu bukan, dan tidak pernah direncanakan menjadi misi NATO," ujar Starmer di Downing Street, seperti dikutip Channel News Asia, Selasa, 17 Maret 2026.
Sikap senada disampaikan oleh Berlin. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menegaskan bahwa sejak awal perang ini bukan merupakan urusan NATO. Merz mengatakan tidak akan ada kontribusi militer dari pihak Jerman karena tidak pernah ada keputusan bersama untuk melakukan intervensi.
Selain Inggris dan Jerman, sejumlah negara Eropa lainnya turut menjauhkan diri dari keterlibatan militer di Selat Hormuz, termasuk Polandia, Spanyol, dan Yunanyi yang menolak keterlibatan militer secara langsung. Sedangkan Swedia, Jepang, dan Australia, menyuarakan sentimen serupa, di mana Australia memastikan tidak akan mengirimkan kapal angkatan laut ke lokasi konflik.
Sebelumnya, Donald Trump memberikan peringatan keras bahwa penolakan untuk membantu pengawalan kapal tanker akan berdampak "sangat buruk bagi masa depan NATO. Trump mendesak negara-negara seperti Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk menunjukkan antusiasme dalam bergabung dengan militer AS.
"Kami sangat mendorong negara-negara lain untuk terlibat bersama kami, dan terlibatlah dengan cepat," kata Trump.
Sebagai bentuk tekanan diplomatik tambahan, ia juga mengumumkan penundaan pertemuan puncak dengan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, selama sekitar satu bulan.
Ketegangan di Selat Hormuz telah memicu guncangan ekonomi yang signifikan. Memasuki minggu ketiga perang, harga minyak dunia bertahan di atas USD100 per barel. Ketidakpastian jalur pelayaran memperburuk inflasi global dan mengganggu rantai pasok energi.
Meskipun menolak NATO, PM Starmer mengisyaratkan bahwa misi pengamanan di masa depan kemungkinan besar hanya akan berupa aliansi mitra yang bersifat sukarela, bukan di bawah bendera pakta pertahanan resmi. Hingga saat ini, para menteri luar negeri Uni Eropa masih terus melakukan koordinasi di Brussels.
Meskipun beberapa negara seperti Denmark menyatakan akan tetap berpikiran terbuka untuk berkontribusi, Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menilai peluncuran misi yang sukses dalam jangka pendek akan sangat sulit untuk diwujudkan.
(Kelvin Yurcel)