Krisis Gaza Memburuk, Warga Palestina Desak PBB Segera Bertindak

Warga Palestina berunjuk rasa mengenai kondisi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza. (Anadolu Agency)

Krisis Gaza Memburuk, Warga Palestina Desak PBB Segera Bertindak

Muhammad Reyhansyah • 12 January 2026 15:30

Gaza: Warga Palestina di Jalur Gaza menggelar aksi protes pada Minggu kemarin menyusul memburuknya kondisi kemanusiaan dan lingkungan yang disebut telah mencapai tingkat katastrofik setelah dua tahun operasi militer Israel di wilayah pesisir tersebut.

Aksi berlangsung di sebuah kamp pengungsi di Gaza City. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Cukup ketidakadilan dan pengabaian,” “Wabah penyakit mengancam kami,” serta “Sampah ada di mana-mana.” Mereka menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar menjalankan tanggung jawabnya dan bertindak lebih tegas menghadapi krisis kemanusiaan yang terus memburuk.

Eylin, seorang anak perempuan Palestina yang terpaksa mengungsi akibat serangan Israel, mengatakan kehidupan di pengungsian tidak layak bagi manusia. “Kami hidup di tenda-tenda yang tidak melindungi dari panas maupun dingin,” ujarnya, dikutip dari Anadolu Agency, Senin, 12 Januari 2026.

Ia menambahkan bahwa anak-anak dan warga sipil meninggal akibat penyakit, serangan hewan pengerat, serta cuaca dingin ekstrem. “Kami ingin membangun kembali kehidupan kami dan membutuhkan rumah yang bisa melindungi kami,” katanya.

Pejabat Kementerian Kesehatan Gaza, Said Akluk, menyatakan Jalur Gaza saat ini tidak memiliki sistem pengelolaan sampah yang layak. Menurutnya, serangan yang terus berlangsung membuat pengangkutan sampah ke lokasi pembuangan akhir di luar kawasan permukiman hampir mustahil dilakukan secara higienis.

Akluk juga menyoroti bahwa tenda-tenda pengungsian tidak memenuhi standar kebersihan minimum, sehingga mempercepat penyebaran penyakit menular. Situasi diperparah dengan meningkatnya populasi tikus dan serangga, menyusul pembatasan Israel terhadap masuknya produk pengendalian hama. Otoritas kesehatan juga menerima laporan serangan hewan liar, terutama terhadap anak-anak.

Sejak awal musim dingin, sedikitnya 21 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia akibat cuaca dingin ekstrem di Jalur Gaza, di tengah blokade Israel, serangan berkelanjutan, serta pengungsian massal.

Dalam pernyataan terpisah, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut bahwa meskipun perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, Israel masih diduga melakukan pelanggaran dan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan. Akibatnya, ratusan ribu warga Palestina kini bertahan hidup di tenda-tenda darurat tanpa perlindungan memadai dari hujan, angin, dan suhu dingin.

Kekurangan tempat tinggal, layanan kesehatan, serta alat pemanas disebut menempatkan bayi dan anak-anak dalam kondisi berisiko tinggi yang mengancam keselamatan jiwa.

Baca juga:  Pelanggaran Berlanjut, Serangan Israel Tewaskan Empat Warga Palestina di Gaza

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)