Lulusan Universitas Siber Asia Didorong Jadi Inovator Masa Depan

Rektor Unsia Jang Youn Cho. Foto: Dok UNSIA.

Lulusan Universitas Siber Asia Didorong Jadi Inovator Masa Depan

Arga Sumantri • 18 January 2026 21:26

Jakarta: Lulusan Universitas Siber Asia (Unsia) didorong menjadi pionir di era Artificial General Intelligence (AGI). Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan saat ini harus dibarengi nilai-nilai kemanusiaan agar semakin berharga.

Hal ini disampaikan Rektor Unsia Jang Youn Cho dalam kegiatan wisuda 879 lulusan Unsia, Minggu, 18 Januari 2026. Sebanyak 367 orang mengikuti wisuda secara langsung dan 495 lainnya terhubung secara daring dari berbagai negara, termasuk Malaysia, Taiwan, dan Arab Saudi.

"Jangan hanya menjadi 'pengguna' masa depan, jadilah 'inovator' masa depan," kata Jang Youn Cho dalam keterangannya, Minggu, 18 Januari 2026.

Ia juga mengumumkan pencapaian Unsia sebagai hub World University Ranking for Innovation (WURI) di Indonesia. Sekaligus, membeberkan rencana menjadi Google Reference University pertama dan pionir penggunaan AI untuk pendidikan di Tanah Air.

"Gunakan efisiensi AI untuk memberi Anda lebih banyak waktu menjadi manusia yang lebih empati dan melayani bangsa dengan hati yang tidak dapat direplikasi oleh kode mana pun," papar Jang Youn Cho.

Pada momentum wisuda kali ini juga dikenalkan program 'Transmigrasi Patriot 2026'. Program ini merupakan gerakan nasional yang mengintegrasikan Tim Ekspedisi Patriot dan Beasiswa Patriot (S2) guna membentuk kawasan transmigrasi yang produktif dan mandiri secara ekonomi berbasis riset aplikatif. 

"Di tahun 2026, ditargetkan sebanyak 1.000 awardee beasiswa magister akan menempuh pendidikan selama 18 bulan, termasuk melakukan penelitian tesis dan pengabdian langsung di 154 kawasan transmigrasi seluruh Indonesia," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Transmigrasi Edy Gunawan.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan, menyampaikan lulusan kampus siber harus memiliki 'DNA digital' yang menjadi keunggulan kompetitif mutlak. Era disrupsi AI diyakini tak sekadar membutuhkan ijazah.

"Saudara harus menjadi praktisi solutif yang mengombinasikan keahlian informatika, komunikasi, atau manajemen untuk memecahkan masalah nyata di masyarakat," ungkap Henri.

Wisudawan Universitas Siber Asia (Unsia). Foto: Dok UNSIA.

Buka Prodi Baru Teknologi Informasi

Awal tahun ini, Unsia resmi mendapat izin pembukaan Program Studi Teknologi Informasi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemristekdikti). Izin tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1198/B/O/2025 tentang Izin Pembukaan Program Studi Teknologi Informasi Program Sarjana melalui Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

"Pembukaan program studi baru tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah mahasiswa. Lebih dari itu, perguruan tinggi diharapkan tetap menempatkan kualitas pendidikan sebagai fokus utama termasuk kualitas kurikulum, sumber daya manusia, sistem pembelajaran, serta penjaminan mutu berkelanjutan," ungkap Henri.

Capaian ini dinilai menjadi bukti nyata konsistensi dan prestasi Unsia dalam memperluas akses pendidikan tinggi berbasis fully online. Kehadiran Program Studi Teknologi Informasi diharapkan mampu menjawab kebutuhan akan sumber daya manusia unggul di bidang teknologi. Sekaligus, memperkuat peran UNSIA sebagai perguruan tinggi siber yang adaptif terhadap perkembangan industri dan transformasi digital global.

Melalui model perkuliahan fully online, Program Studi Teknologi Informasi Unsia membuka kesempatan bagi masyarakat Indonesia, baik yang berada di dalam maupun luar negeri, untuk melanjutkan pendidikan tinggi. 

Fleksibilitas belajar yang memungkinkan mahasiswa kuliah kapan saja dan di mana saja menjadi keunggulan utama, sehingga pendidikan berkualitas dapat diakses tanpa batas ruang dan waktu.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)