AS dan Kuba Lakukan Pertemuan Militer Langka di Tengah Ketegangan Energi

Bendera Kuba. (Anadolu Agency)

AS dan Kuba Lakukan Pertemuan Militer Langka di Tengah Ketegangan Energi

Willy Haryono • 30 May 2026 13:38

Guantanamo Bay: Komandan US Southern Command (SOUTHCOM), Jenderal Francis Donovan, bertemu sejumlah pejabat senior militer Kuba di perimeter Pangkalan Angkatan Laut Guantanamo Bay pada Jumat kemarin.

Dikutip dari Anadolu, Sabtu, 30 Mei 2026, pertemuan tersebut menjadi salah satu kontak tatap muka langka antara militer Amerika Serikat (AS) dan Kuba dalam beberapa tahun terakhir.

Mengutip pernyataan SOUTHCOM di platform X, Donovan bertemu Jenderal Korps Angkatan Darat Kuba Roberto Legra Sotolongo yang merupakan Wakil Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Kepala Staf Umum Kuba.

Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah pejabat senior militer Kuba lainnya. Kedua pihak disebut melakukan “pertukaran singkat mengenai isu keamanan operasional.”

Selain pertemuan dengan pejabat Kuba, Donovan juga memimpin peninjauan keamanan perimeter pangkalan Guantanamo Bay.

Menurut SOUTHCOM, pembahasan dengan pejabat pangkalan mencakup perlindungan personel militer dan keluarga mereka, keselamatan, serta kesiapan operasional.

Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba (MINFAR) menyebut pertemuan tersebut berlangsung “positif.”

Dalam pernyataannya di X, MINFAR mengatakan kedua pihak membahas isu-isu yang menjadi kepentingan bersama dan sepakat melanjutkan komunikasi antara komando militer masing-masing.

Hubungan AS-Kuba

Sebelumnya, delegasi AS yang dipimpin Direktur CIA John Ratcliffe juga sempat mengunjungi Havana untuk membahas hubungan bilateral dan kerja sama keamanan.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan hubungan Washington dan Havana setelah AS memberlakukan embargo minyak terhadap Kuba sejak 30 Januari lalu.

Pemerintahan Presiden Donald Trump juga mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba.

Kebijakan tersebut memicu krisis energi di Kuba yang ditandai kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik luas.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla sebelumnya menuduh kebijakan Washington sebagai “tindakan perang” melalui blokade energi terhadap negaranya.

Baca juga:  Antisipasi Kejatuhan Rezim, AS Disebut Rencanakan Respons Militer Terhadap Kuba

(Willy Haryono)