Robert Budi Hartono Jadi Pengendali Tunggal BCA

Robert Budi Hartono jadi pengendali tunggal BCA. Foto: dok Forbes.

Robert Budi Hartono Jadi Pengendali Tunggal BCA

Ade Hapsari Lestarini • 3 August 2026 17:43

Jakarta: Robert Budi Hartono resmi menjadi Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) setelah wafatnya Bambang Hartono.

Perubahan tersebut terjadi menyusul meninggalnya Bambang Hartono yang sebelumnya bersama Robert Budi Hartono menjadi pemegang saham pengendali PT Dwimuria Investama Andalan (DIA), selaku pemegang saham pengendali terakhir BCA.

Corporate Secretary BCA Rudy Budiarjo mengatakan komposisi pemegang saham pengendali PT DIA berubah menjadi Robert Budi Hartono. Adapun porsi kepemilikan saham Robert Budi Hartono di PT DIA tetap sebesar 51 persen dari modal ditempatkan dan disetor.

"Dengan demikian, pemegang saham pengendali terakhir perseroan menjadi Robert Budi Hartono," ujar Rudy dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 3 Agustus 2026.

Rudy menjelaskan, pada 30 Juli 2026 perseroan menerima Surat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor SR-21/PB.333/2026 tertanggal 29 Juli 2026 mengenai struktur kepemilikan akhir BCA.

Dalam surat tersebut, OJK menyampaikan perubahan struktur kepemilikan akhir perseroan telah dicatat dalam administrasi pengawasan OJK dan menetapkan Robert Budi Hartono sebagai Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) BCA.


 

 

Perjalanan bisnis keluarga Hartono


Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono merupakan generasi penerus Grup Djarum yang didirikan oleh ayah mereka, Oei Wie Gwan.

Perusahaan tersebut bermula pada 1951 ketika Oei Wie Gwan mengakuisisi usaha rokok kretek kecil bernama Djarum Gramophon yang kemudian berganti nama menjadi Djarum.

Perjalanan bisnis Djarum sempat menghadapi ujian setelah kebakaran besar pada 1963 yang hampir melumpuhkan operasional perusahaan. Namun, perusahaan berhasil bangkit melalui modernisasi fasilitas produksi sehingga meningkatkan kapasitas dan penjualan.

Sejak 1972, Djarum mulai memperluas pasar ke luar negeri dan berkembang menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Keberhasilan tersebut kemudian menjadi fondasi ekspansi Grup Djarum ke berbagai sektor usaha, termasuk perbankan melalui kepemilikan saham di BCA.

(Ade Hapsari Lestarini)