Musim Kemarau Jadi Momentum Perkuat Kesiapsiagaan Relawan Kebencanaan

Ilustrasi. Medcom.id

Musim Kemarau Jadi Momentum Perkuat Kesiapsiagaan Relawan Kebencanaan

Deny Irwanto • 1 August 2026 14:56

Magelang: Memasuki puncak musim kemarau, penguatan kapasitas relawan kebencanaan dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Upaya mitigasi sejak dini dinilai dapat membantu mengurangi dampak bencana yang kerap meningkat pada periode kemarau.

“FPRB memiliki posisi yang sangat strategis. Relawan bukan hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi menjadi ujung tombak dalam membangun budaya kesiapsiagaan dan pencegahan di tengah masyarakat,” kata Anggota Komisi VIII DPR RI Wibowo Prasetyo dalam Sarasehan Relawan Penanggulangan Bencana di Sekretariat Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jumat, 31 Juli 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua FPRB Kecamatan Borobudur Nur Fauzan, kepala desa beserta perangkat desa, dan relawan penanggulangan bencana dari berbagai desa di Kecamatan Borobudur.

Wibowo mengingatkan musim kemarau tidak berarti ancaman bencana berkurang. Menurutnya, periode tersebut justru berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, kebakaran permukiman akibat cuaca panas maupun korsleting listrik, kekeringan, hingga krisis air bersih.

 



Ia menilai paradigma penanggulangan bencana perlu terus diarahkan pada upaya pengurangan risiko secara berkelanjutan. Edukasi kepada masyarakat, deteksi dini, pemetaan wilayah rawan, serta koordinasi antarlembaga dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat mitigasi bencana.

Wibowo juga mengapresiasi dedikasi para relawan yang selama ini aktif membantu masyarakat secara sukarela. Menurutnya, peningkatan kapasitas relawan melalui pelatihan dan dukungan sarana prasarana perlu terus diperkuat.

“Keberhasilan penanggulangan bencana bukan diukur dari banyaknya bantuan yang disalurkan setelah bencana terjadi, tetapi dari semakin kecilnya risiko dan semakin sedikit korban yang ditimbulkan. Karena itu, investasi terbaik adalah membangun masyarakat yang siap menghadapi bencana,” jelas Wibowo.

Sementara Ketua FPRB Kecamatan Borobudur, Nur Fauzan, mengatakan sarasehan menjadi ajang memperkuat koordinasi sekaligus menyamakan langkah relawan dalam menghadapi potensi bencana selama musim kemarau.


Petani di Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Aceh, sedang menyemprot padi. Media Indonesia/ Amiruddin Abdullah Reubee


“Relawan adalah bagian dari masyarakat yang bergerak atas dasar kepedulian. Karena itu kami terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, BPBD, TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat agar penanganan bencana semakin cepat dan efektif,” ungkap  Fauzan.

Kepala Desa Ngadiharjo, Wahyu Saryanto, turut mengapresiasi peran relawan FPRB yang selama ini menjadi mitra pemerintah desa dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat. Ia berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat agar berbagai potensi bencana dapat diantisipasi lebih awal.

Usai sarasehan, Wibowo menyerahkan santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai langkah-langkah mitigasi menghadapi musim kemarau, penguatan jejaring relawan, serta pentingnya membangun kesadaran bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama.

(Deny Irwanto)