Pemprov DKI Integrasikan Jalur MRT dan KRL di Kota Tua

Stasiun Jakarta Kota di kawasan Kota Tua. Foto: Dok. Antara.

Pemprov DKI Integrasikan Jalur MRT dan KRL di Kota Tua

Fachri Audhia Hafiez • 10 April 2026 00:26

Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengintegrasikan jalur transportasi massal MRT Jakarta dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line yang melintasi kawasan Kota Tua. Langkah ini bertujuan mempercepat transformasi kawasan bersejarah tersebut menjadi pusat mobilitas modern yang terintegrasi.

“Nanti akan ada selain MRT, KRL yang pakai listrik. Kemarin ketika saya menerima Dirut KAI kita sudah membahas, dan Bapak Presiden sudah memberikan arahan. Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa selesai, kurang lebih lintasan lama tapi dibuat listrik,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 9 April 2026.
 


Pramono menjelaskan, rute KRL tersebut akan memanfaatkan lintasan lama yang dielektrifikasi sepanjang 16 kilometer pada tahap awal dan berkembang menjadi 28 kilometer pada tahap berikutnya. Integrasi ini dipersiapkan untuk menyambut rampungnya proyek MRT rute Kota Tua yang dijadwalkan selesai pada 2029 mendatang.

Rencana besar ini merupakan bagian dari revitalisasi total kawasan Kota Tua guna memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan komitmen penuh pemerintah daerah untuk mengawal langsung proses penataan ini di lapangan.

“Di sini kita memberikan keyakinan bahwa Pemprov DKI serius untuk membangun Kota Tua. Kita sudah mempunyai tim revitalisasi Kota Tua dan Insya Allah di saat waktunya tepat, saya sendiri sebagai penanggung jawab akan berkantor di Kota Tua,” tegas Rano Karno.

Rano memaparkan, dari total luas kawasan sekitar 363 hektare, fokus awal revitalisasi akan menyasar zona inti seluas 80 hektare. Kawasan ini mencakup titik-titik krusial seperti Museum Bahari dan Alun-alun Fatahillah yang menjadi magnet utama pariwisata sejarah di Jakarta.


Ilustrasi MRT. Foto: Media Indonesia/Susanto.

Selain infrastruktur transportasi, Pemprov DKI juga memprioritaskan pembangunan area parkir yang representatif dan penataan lokasi Pedagang Kaki Lima (PKL). Hal ini dilakukan untuk menciptakan suasana kawasan yang rapi, tertib, dan inklusif tanpa mematikan ekonomi kerakyatan.

“Fasilitas itu penting agar suasana di Kota Tua tampak rapi dan tak mengganggu kehidupan masyarakat sekitar,” tambah Rano.

Melalui pembagian zona yang terukur yakni zona inti, zona pengembangan, dan zona penunjang, Pemprov DKI optimistis Kota Tua akan menjadi simbol baru Jakarta yang modern. Namun, tetap berpijak pada nilai-nilai sejarah dan budaya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)