Strategi Pemerintah Hadapi Cuaca Ekstrem Kemarau dan El Nino

Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas mengenai kesiapan pemerintah hadapi kemarau dan El Nino bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 28 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr

Strategi Pemerintah Hadapi Cuaca Ekstrem Kemarau dan El Nino

M Ilham Ramadhan Avisena • 29 July 2026 00:21

Jakarta: Pemerintah memperketat langkah antisipasi menghadapi potensi El Nino, yang diperkirakan menguat bersamaan dengan musim kemarau. Fenomena iklim tersebut dapat meningkatkan ancaman kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) membeberkan sejumlah strategi dari pemerintah. Salah satunya yaitu memastikan infrastruktur sumber daya air tetap mampu menjaga ketersediaan air bersih sekaligus menopang produktivitas sektor pertanian.

"Kita harus menyiapkan diri sebaik mungkin agar El Nino yang berhimpit dengan masa kemarau tidak terlalu menghadirkan permasalahan yang terlalu berarti bagi masyarakat kita, termasuk mengganggu sektor pangan dan ekonomi secara keseluruhan," kata AHY usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.

Menurut AHY, kesiapan infrastruktur menjadi kunci untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem. Pemerintah memastikan bendungan dan waduk memiliki cadangan air yang cukup, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga sebagai sumber air baku dan irigasi pertanian.

Ia menegaskan keberlangsungan irigasi harus dijaga agar aliran air ke sawah tetap tersedia. Sehingga produktivitas pertanian tidak mengalami penurunan akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

Selain berpotensi mengurangi ketersediaan air, kondisi itu juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah.

Sejumlah wilayah seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan disebut menjadi daerah yang selama ini kerap menghadapi kemunculan titik panas, baik di kawasan gambut maupun non-gambut.

Untuk menghadapi potensi tersebut, pemerintah menyiapkan langkah terpadu melalui satuan tugas darat dan udara serta melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Teknologi tersebut tidak hanya diarahkan untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga menjaga ketersediaan air.

"Termasuk Operasi Modifikasi Cuaca untuk memastikan debit air di bendungan dan waduk, termasuk danau kita juga dalam status yang aman," kata AHY.


Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto: Metro TV/Kautsar Widya Prabowo.

Sementara itu, pemetaan wilayah rawan akan terus diperbarui oleh BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kedua lembaga tersebut bertugas mengidentifikasi daerah yang membutuhkan pengawasan lebih ketat sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat.

Dalam jangka panjang, pemerintah juga terus mematangkan strategi menuju swasembada air. AHY mengatakan tantangan utama Indonesia adalah distribusi sumber daya air yang belum merata karena terdapat wilayah yang mengalami surplus, sementara daerah lain masih menghadapi ancaman kekeringan.

Karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai solusi. Mulai dari pengembangan sumber-sumber air baru, desalinasi air laut di wilayah kepulauan, hingga penjernihan air payau untuk memperluas akses air bersih.

"Jadi kita ingin mendorong bahwa ketika cuaca ekstrem terjadi, termasuk El Nino yang mungkin berkepanjangan, kita semua siap dan juga harus menyiapkan langkah-langkah antisipasi bukan hanya jika kekurangan air tapi juga jika terjadi kebakaran hutan dan lahan," kata AHY.

(Gabriella Thesa Widiari)