Yaman Tuduh Houthi Berusaha Kuasai Bab el-Mandeb dengan Tiru Strategi Iran

Yaman menuduh Houthi berupaya menguasai Selat Bab el-Mandeb. (Anadolu Agency)

Yaman Tuduh Houthi Berusaha Kuasai Bab el-Mandeb dengan Tiru Strategi Iran

Willy Haryono • 28 July 2026 08:48

Riyadh: Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menuduh kelompok pemberontak Houthi berupaya menguasai arus pelayaran di Selat Bab el-Mandeb dengan meniru strategi Iran di Selat Hormuz.

Dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 28 Juli 2026, Menteri Luar Negeri Yaman Afrah al-Zouba menuduh Houthi ingin menerapkan model yang digunakan Iran di Selat Hormuz sehingga berpotensi mengganggu dua jalur pelayaran utama dunia.

"Houthi ingin meniru model Iran, dan hal itu akan menutup dua selat utama yang menjadi pintu masuk ke Teluk dan Laut Merah," kata al-Zouba kepada wartawan di Kedutaan Besar Yaman di Riyadh, Arab Saudi.

Menurut al-Zouba, kelompok Houthi yang didukung Iran semakin berani karena respons masyarakat internasional terhadap aktivitas mereka di kawasan dinilai belum cukup kuat.

Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Jalur tersebut menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Sekitar 30 persen lalu lintas kontainer global serta 12 hingga 15 persen perdagangan dunia melintasi kawasan tersebut.

Pelayaran di Laut Merah

Ia mengatakan letak geografis Yaman memberikan pengaruh besar terhadap lalu lintas pelayaran di Bab el-Mandeb bagi pihak yang menguasai wilayah barat negara itu.

Data terbaru juga menunjukkan aktivitas pelayaran di Laut Merah mulai menurun. Pada Minggu pekan lalu, hanya 11 kapal komoditas yang tercatat melintasi jalur tersebut.

Pernyataan al-Zouba disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Houthi dengan Arab Saudi serta pemerintah Yaman.

Awal Juli lalu, Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang menuju dan keluar dari Arab Saudi melalui Laut Merah, disertai serangan rudal dan pesawat nirawak ke wilayah kerajaan.

Sebagai respons, Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Kota Pelabuhan Hodeidah yang dikuasai Houthi.

Siap Hadapi Eskalasi

Menurut al-Zouba, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi siap menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut. Ia mengatakan baku tembak masih terjadi di sepanjang garis depan yang memisahkan wilayah yang dikuasai Houthi dan pemerintah, meski belum ada operasi ofensif besar yang dilancarkan.

Awal bulan ini, hampir 20 pejuang dari kedua pihak dilaporkan tewas dalam bentrokan di sekitar Hodeidah.

Perang di Yaman dimulai pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa, yang memaksa Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi saat itu mengungsi ke Riyadh. Arab Saudi kemudian memimpin koalisi militer Arab untuk mendukung pemerintah Yaman sejak 2015 hingga tercapainya gencatan senjata pada 2022.

Hingga 2026, Houthi masih menguasai Sanaa dan sejumlah wilayah lainnya. Sementara itu, ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait dukungan terhadap kelompok separatis di Yaman selatan turut memengaruhi dinamika konflik.

Konflik berkepanjangan tersebut telah menimbulkan krisis kemanusiaan besar. Diperkirakan sekitar 377.000 orang meninggal antara 2015 hingga awal 2022, sebagian besar akibat dampak tidak langsung perang, seperti kelaparan dan penyakit.

Baca juga:  Yaman Siap Hadapi Eskalasi Konflik usai Serangan Houthi ke Arab Saudi

(Willy Haryono)