Diduga Sabotase, Pria Bermasker Bakar Restoran Ukraina di Ibu Kota Polandia

Restoran Ukraina yang dibakar di Polandia. Foto: Anadolu

Diduga Sabotase, Pria Bermasker Bakar Restoran Ukraina di Ibu Kota Polandia

Fajar Nugraha • 17 June 2026 10:34

Warsawa: Setidaknya dua orang pria bermasker dilaporkan telah membakar sebuah restoran milik warga negara Ukraina di ibu kota Polandia, Warsawa.

Pemilik tempat usaha tersebut mengonfirmasi insiden penyerangan pada 16 Juni 2026 ini kepada media lokal setempat.

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran publik atas aksi sabotase dan serangan bermotif politik yang berkaitan dengan perang Rusia di Ukraina. Insiden ini juga bertepatan dengan ketegangan diplomatik yang sedang berlangsung di antara para pemimpin senior Polandia dan Ukraina terkait isu pembantaian era Perang Dunia II.

Aksi pembakaran tersebut menyasar Restoran Mur Mur, di mana sang pemilik yang bernama Alexey Kostylev menjelaskan bahwa sekitar pukul 04.00 waktu setempat, dua pria yang mengenakan masker dan pakaian penutup kepala terlihat mendekati area restorannya.

“Salah satu pelaku terlebih dahulu memantau situasi di sekitar lokasi kejadian sebelum akhirnya kedua orang tersebut membakar sebagian dari struktur bangunan restoran,” ujar Kostylev, seperti dikutip Anadolu, Rabu 17 Juni 2026.

Pemilik tempat usaha itu juga mengeklaim bahwa salah satu pelaku sempat kembali beberapa saat kemudian untuk mendokumentasikan hasil pembakaran tersebut. Otoritas berwenang melaporkan tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kebakaran tersebut menyebabkan kerusakan materi pada bangunan restoran dan saat ini sedang diselidiki secara intensif oleh kepolisian Polandia.

Sejauh ini, tim penyidik belum merilis identitas pelaku maupun motif di balik serangan tersebut kepada publik. Dalam beberapa tahun terakhir, tim penyidik Polandia berhasil membongkar berbagai jaringan pembakaran dan sabotase siber yang terhubung dengan dinas intelijen Rusia.

Otoritas keamanan menyatakan bahwa operasi terselubung semacam itu sengaja menargetkan pusat perbelanjaan, gudang logistik, serta fasilitas sipil lainnya demi menyebarkan teror, memperlemah dukungan terhadap Ukraina, dan mendestabilisasi negara-negara Eropa. Pada April lalu, jaksa penuntut umum Polandia mendakwa lima orang terkait kasus kebakaran besar yang menghancurkan pusat perbelanjaan Marywilska 44 di Warsawa pada tahun 2024, sebuah kasus yang dikaitkan langsung dengan jaringan sabotase Rusia.

Penyidik mengatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk mengintimidasi masyarakat dan memengaruhi opini publik. Sejumlah pejabat tinggi Polandia juga menuduh individu-individu yang bergerak atas perintah intelijen Rusia telah melakukan atau mencoba meluncurkan aksi pembakaran di wilayah lain di negara tersebut, termasuk di komplek pergudangan dan fasilitas komersial.

Kasus kebakaran restoran di Warsawa ini juga mencerminkan pola serangan serupa yang marak terjadi di Benua Eropa. Tahun lalu, pengadilan Inggris menjatuhkan hukuman penjara kepada beberapa pria karena terbukti melakukan aksi pembakaran terkait jaringan Rusia terhadap bisnis milik warga Ukraina di London, di mana penyidik menemukan bahwa operasi tersebut diatur melalui perantara yang mewakili kepentingan Rusia.

Sementara itu di Estonia, pihak pengadilan baru-baru ini menyimpulkan bahwa dinas intelijen militer Rusia merupakan aktor intelektual yang memerintahkan aksi pembakaran terhadap restoran bertema Ukraina, Slava Ukraini, di Tallinn. Pengadilan setempat menggambarkannya sebagai bagian dari kampanye permusuhan Rusia yang lebih luas di seantero Eropa.

Kendati demikian, pada tahap penyelidikan saat ini, belum ada bukti hukum yang dipublikasikan yang mengaitkan langsung serangan restoran di Warsawa tersebut dengan aktor negara asing mana pun. Meskipun Polandia dikenal sebagai salah satu sekutu terkuat Ukraina, perselisihan terbaru mengenai sejarah Perang Dunia II sempat meregangkan hubungan diplomatik kedua negara bertetangga ini.

Di saat yang sama, pihak berwenang terus mengusut dugaan plot sabotase arahan Rusia di wilayah Polandia, sehingga aksi pembakaran skala kecil terhadap bisnis Ukraina ini kemungkinan besar akan tetap dipandang dalam konteks keamanan nasional yang lebih luas.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)