Foto udara kebakaran lahan di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar (ANTARA/HO : Walhi Kalbar)
Titik Panas Meningkat, Pengendalian Karhutla Diperkuat
Atalya Puspa • 15 September 2026 12:08
Jakarta: Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat respons pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini menyusul peningkatan hotspot atau titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan.
Berdasarkan data SiPongi Kemenhut yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Senin, 14 September 2026 pukul 21.05 WIB terdeteksi 1.437 hotspot high confidence secara nasional. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 592 titik pada hari sebelumnya.
“Setiap indikasi hotspot harus segera direspons agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi, Selasa, 15 September 2026.
Hotspot tertinggi tercatat di Kalimantan Tengah dengan 689 titik, meningkat dari 89 titik pada hari sebelumnya. Kalimantan Barat mencatat 203 titik, naik dari 14 titik, disusul Sumatra Selatan 116 titik dari 49 titik.
Ristianto mengatakan penanganan dilakukan melalui respons cepat di lapangan, patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, pembasahan lahan, hingga operasi udara.
“Pengendalian dilakukan secara terpadu melalui pemadaman darat, water bombing, patroli udara, pembasahan, serta Operasi Modifikasi Cuaca sesuai kondisi meteorologis,” ujar Ristianto.
Kemenhut bersama Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, mopping up, pembasahan, serta pendinginan.
Pemerintah juga menyiagakan 53 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing, sedangkan 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC).
Menurut Ristianto, keberadaan hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan.
“Hotspot merupakan indikasi dari deteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi dengan kondisi aktual di lapangan,” ungkap Ristianto.

Para relawan saat memadamkan api di Jalan Parit H Mukhsin, Kabupaten Kubu Raya, pada Selasa, 1 September 2026. ANTARA/HO-Sucia Lucinda
Peningkatan hotspot terjadi di tengah kondisi atmosfer yang relatif kering. BMKG mencatat sekitar 81% Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau pada periode 15-21 September. Sebanyak 1.637 titik pengamatan juga mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem atau lebih dari 60 hari berturut-turut.
Citra Satelit Himawari-9 pada 14 September menunjukkan sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Kondisi kering diprakirakan masih mendominasi sehingga risiko karhutla, terutama pada lahan gambut, masih perlu diwaspadai.
Namun, peluang hujan masih terbuka. BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada 15-17 September.
OMC di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah telah dilaksanakan hingga Senin, 14 September 2026 sebagai bagian dari strategi pembasahan gambut dan pengendalian karhutla. Pelaksanaan OMC selanjutnya menyesuaikan kebutuhan lapangan dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan meteorologis.
Kapasitas operasi udara juga diperkuat melalui dukungan Pemerintah Jepang berupa tiga helikopter CH-47 Chinook. Kementerian Pertahanan, TNI, dan delegasi Jepang telah melakukan koordinasi kesiapan operasi di Lanud Supadio, Kalimantan Barat, pada 13 September.
Koordinasi tersebut mencakup kesiapan helikopter, wilayah dan jalur penerbangan, mekanisme koordinasi, serta prosedur operasional agar dukungan tiga Chinook dapat terintegrasi dengan operasi karhutla secara aman dan efektif.
Kemenhut juga memantau dampak asap terhadap kualitas udara. Berdasarkan pemantauan PM2,5, sebagian besar wilayah masih berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Beberapa lokasi di Kalimantan bahkan terpantau dalam kategori berbahaya.
Kondisi jarak pandang juga bervariasi. Di Pontianak, jarak pandang tercatat sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap. Di Jambi sekitar 5 kilometer dengan kondisi udara kabur, Palangka Raya sekitar 9 kilometer dengan kondisi cerah berawan, dan Pekanbaru sekitar 7 kilometer. Sementara di Palembang dan Banjarmasin jarak pandang mencapai 10 kilometer atau lebih.
Ristianto mengimbau masyarakat di wilayah terdampak asap untuk terus memantau kondisi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi memburuk.
“Masyarakat juga diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, segera laporkan agar dapat ditangani sedini mungkin,” ujar Ristianto.