BPBD: 567 Kasus Karhutla Terjadi di Palangka Raya Sejak Juni 2026

Petugas melakukan pemadamakan kebakaran lahan di Kota Palangka Raya. ANTARA/Rendhik Andika.

BPBD: 567 Kasus Karhutla Terjadi di Palangka Raya Sejak Juni 2026

Lukman Diah Sari • 17 September 2026 16:53

Palangka Raya: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), mencatat 1.201,15 hektare lahan terbakar akibat 567 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ratusan insiden ini terjadi dalam kurun waktu 1 Juni hingga 16 September 2026.

Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, mengungkapkan karhutla tersebar di lima kecamatan. Kasus tertinggi tercatat di Kecamatan Jekan Raya.

"Selama periode 1 Juni sampai 16 September 2026 kami mencatat terjadi 567 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.201,15 hektare. Kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya, diikuti wilayah Kecamatan Sebangau," kata Hendrikus di Palangka Raya, Kamis, 17 September 2026, melansir Antara.

Secara rinci, karhutla melanda Kecamatan Jekan Raya (362 kejadian), Sebangau (119), Pahandut (50), Bukit Batu (33), dan Rakumpit (3). Hendrikus menegaskan, setiap laporan langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan personel dan sarana pemadaman guna melokalisasi api.

"Penanganan kami lakukan secepat mungkin, terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut yang memiliki potensi terbakar lebih besar dan sulit dipadamkan," ujarnya.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. Foto: dok. MI.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Muhammad Heri Pauzi, menambahkan karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama. Api kerap merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah, sehingga pemadaman harus dilakukan menyeluruh agar titik api benar-benar padam.

Guna memaksimalkan pengendalian, BPBD bersinergi lintas instansi, mulai dari Manggala Agni, TNI, Polri, Dinas Kehutanan, BKSDA, relawan, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA). Kolaborasi ini mencakup pemadaman darat, patroli terpadu, hingga pembuatan sumur bor sebagai sumber air di wilayah rawan.

"Sinergi ini terus kami lakukan agar setiap kejadian dapat ditangani dengan cepat dan risiko meluasnya kebakaran dapat ditekan," ujar Hendrikus.

(Lukman Diah Sari)