IHSG Senin Sore Turun 0,10% ke Level 6.534

Ilustrasi Gedung BEI. Foto: dok MI.

IHSG Senin Sore Turun 0,10% ke Level 6.534

Ade Hapsari Lestarini • 14 September 2026 16:25

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin, 14 September 2026. Investor masih bersikap wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pekan ini.

Berdasarkan data RTI, IHSG turun 6,684 poin atau 0,10 persen ke level 6.534. Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 6.533.

Adapun total volume saham yang diperdagangkan mencapai 35,476 miliar saham dengan nilai transaksi Rp17,976 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.396 triliun, sedangkan frekuensi perdagangan mencapai 2.121.353 kali.

Sebanyak 219 saham menguat, 429 saham melemah, dan 141 saham lainnya stagnan.


Ilustrasi Gedung BEI. Foto: dok MI.
 

 

Pasar cermati kebijakan suku bunga The Fed


Pelemahan IHSG terjadi seiring sikap pelaku pasar yang mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, pada pekan ini.

"Apabila IHSG gagal bertahan di 6.530, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.425, dengan support berikutnya di 6.377. Sebaliknya, apabila mampu rebound dan kembali menembus level 6.592, IHSG berpeluang menguji 6.723, sebelum menuju 6.859 sebagai resistance berikutnya," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya, dilansir Antara.

Sementara dari mancanegara, Liza mengatakan perhatian pelaku pasar global tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 15-16 September 2026.

Pelaku pasar mencermati kemungkinan perubahan suku bunga The Fed setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi. Inflasi headline AS tercatat sebesar 3,4 persen pada Agustus 2026. Selain itu, ekspektasi inflasi konsumen menunjukkan tekanan harga yang berpotensi bertahan lebih lama.

Liza juga menyebut kekhawatiran inflasi membayangi sentimen pasar setelah Consumer Sentiment Index University of Michigan turun menjadi 47,8 pada September 2026 dari 51,7 pada Agustus. Angka tersebut juga berada di bawah ekspektasi 51,0.

"Penurunan utamanya dipicu oleh kenaikan harga bensin dan ketegangan perdagangan yang meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya hidup," ujar Liza.

(Ade Hapsari Lestarini)