CCTV aktivitas gunung anak Krakatau pada Senin (13/7) siang. ANTARA/HO/PVMBG
Gunung Anak Krakatau Erupsi 19 Kali Selama Juni-Juli 2026, Status Siaga
Lukman Diah Sari • 13 July 2026 16:35
Lampung Selatan: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, mengalami 19 kali erupsi sepanjang periode Juni hingga Juli 2026. Aktivitas vulkanik masih berada pada Level III (Siaga).
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan, peningkatan aktivitas vulkanik tersebut terus dipantau secara intensif melalui pengamatan visual maupun instrumental untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api secara berkelanjutan.
“Dari tanggal 2 Juni hingga 11 Juli 2026 telah terjadi 19 kali erupsi. Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih fluktuatif, sehingga pemantauan dilakukan selama 24 jam,” kata dia, melansir Antara, Senin, 13 Juli 2026.

Anak Krakatau yang masih mengeluarkan asap dari puncak berdasarkan pengamatan petugas PVMBG Badan Geologi di Lampung Selatan, Lampung, Rabu petang, 8 Juli 2026. ANTARA/HO-Badan Geologi
Ia menjelaskan hasil pemantauan menunjukkan aktivitas kegempaan dan embusan masih terekam oleh alat pemantau. Kondisi ini menjadi indikator bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
Menurutnya, peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi pada awal Juli menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Meski demikian, aktivitas gunung api tersebut masih berada dalam kategori yang dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.
Baca Juga :
“Gunung Anak Krakatau masih dalam status level III, nelayan dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati dalam radius dua kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau,” ujarnya.
Selain itu, nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi cuaca sebelum melaut.
Dia menegaskan bahwa masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan oleh lembaga berwenang.