Tampak pengendara melintasi Jalan RTA Milono saat asap pekat akibat karhutla menyelimuti Kota Palangka Raya pukul 13:44 WIB, Sabtu (24/10/2026). ANTARA/Muhammad Arif Hidayat
Pengorbanan Nakes Rela Tinggalkan Keluarga Demi Siaga Hadapi Karhutla
Enrich Samuel • 28 October 2026 14:58
Palangka Raya: Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah menjadi tantangan bagi masyarakat sekaligus tenaga kesehatan. Selama berbulan-bulan, dokter dan perawat di RSUD dr Doris Sylvanus, Palangka Raya, bersiaga menangani pasien yang mengalami gangguan pernapasan.
Setelah hujan turun selama tiga hari terakhir, kondisi kabut asap mulai membaik. Jumlah pasien yang menjalani rawat inap juga menunjukkan penurunan.
Selama periode karhutla, kunjungan pasien rawat jalan dan instalasi gawat darurat (IGD) di RSUD dr Doris Sylvanus meningkat dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya. Pasien yang ditangani antara lain mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, dan pneumonia.
Anak-anak, khususnya balita, serta lanjut usia menjadi kelompok yang rentan terdampak. Sebagai rumah sakit rujukan, RSUD dr Doris Sylvanus memperkuat kesiapan dengan menyiagakan tenaga medis dan paramedis, menyiapkan sarana dan prasarana, serta memastikan ketersediaan obat-obatan untuk mengantisipasi lonjakan pasien.
“Rumah sakit sudah dari awal kami sebagai rumah sakit rujukan mempersiapkan, baik itu SDM-nya, nakesnya, dan paramedisnya, dan juga kami juga mempersiapkan termasuk sarana prasarana dan obat-obatan sehingga apabila terjadi lonjakan kita siap untuk menghadapi itu.” kata Plt Direktur RSUD dr Doris Sylvanus, Fery Iriawan, Rabu, 28 Oktober 2026.
Kesiapsiagaan tersebut dilakukan untuk memastikan pasien tetap memperoleh penanganan medis ketika kualitas udara memburuk. Pihak rumah sakit menyebut tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) berada di kisaran 70 persen.
Dari enam pasien pneumonia dan asma yang sebelumnya menjalani rawat inap, kini hanya tersisa satu pasien. Kondisi pasien tersebut dilaporkan telah membaik. Penurunan jumlah pasien rawat inap terjadi di tengah membaiknya kondisi kabut asap. Meski demikian, rumah sakit tetap bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan jumlah pasien.
“Otomatis seperti itu, ya. Dengan kondisi yang udara yang cukup bagus, tentunya dampak dari pasien, ya, yang menderita kasus terutama infeksi saluran napas atas ini bisa berkurang,” ujar Fery.
Di tengah upaya menjaga pelayanan, tenaga kesehatan juga menghadapi kekhawatiran akibat paparan asap. Kondisi udara yang buruk menjadi tantangan, terutama ketika mereka harus menangani pasien dengan riwayat penyakit paru-paru sekaligus menjaga keselamatan diri dan keluarga.
Dokter spesialis paru RSUD dr Doris Sylvanus, Itna Wardina, mengaku sempat mempertimbangkan keselamatan dirinya dan keluarga ketika kabut asap mencapai kondisi terparah. Namun, tanggung jawab untuk melayani masyarakat membuatnya tetap menjalankan tugas.

Pemadaman karhutla di area perkantoran Pemkot Palangka Raya. (Metro TV)
“Sejujurnya saya juga berpikir untuk evakuasi. Saya pikir ini sangat, sudah kayak sempat berpikir bahwa ini udara beracun. Bagaimana anak-anak saya? Saya sampai berpikir seperti itu. Tapi ya kita adalah pelayan. Kita harus melayani masyarakat kita. Kita tidak bisa meninggalkan mereka hanya untuk diri kita, dan kita berusaha bertahan,” ujar Itna.
Selama kabut asap pekat, Itna juga mengingat pengalamannya menangani pasien lanjut usia dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang sangat bergantung pada bantuan oksigen. Ketika sesak napasnya memburuk, pasien tersebut menangis dan meminta agar tidak dipulangkan sampai kabut asap berhenti. Ketergantungan terhadap oksigen menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pasien yang tidak mampu menyediakan oksigen secara mandiri di rumah.
Pengalaman tersebut menggambarkan dampak karhutla terhadap pasien dengan gangguan pernapasan sekaligus tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan selama kualitas udara memburuk.
Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir mulai memperbaiki kondisi kabut asap di Palangka Raya. Meski jumlah pasien rawat inap menurun, tenaga kesehatan tetap bersiaga untuk mengantisipasi dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat.