CIA Peringatkan Risiko Konflik Sipil di Israel Jelang Pemilu Bulan Ini

Penilaian rahasia CIA menyoroti risiko konflik sipil atau keruntuhan negara Israel. (Anadolu Agency)

CIA Peringatkan Risiko Konflik Sipil di Israel Jelang Pemilu Bulan Ini

Willy Haryono • 6 October 2026 13:33

Washington: Penilaian rahasia Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) memperingatkan bahwa semakin dalamnya perpecahan politik, ekonomi, dan sosial dapat membuat Israel menghadapi risiko konflik sipil atau keruntuhan negara, menurut laporan bertajuk Fracture From Within yang diterbitkan pada Senin, 5 Oktober 2026.

Fracture From Within disusun pada Agustus lalu oleh Red Cell CIA, unit yang bertugas menantang asumsi-asumsi intelijen yang berlaku. Drop Site News melaporkan isi penilaian itu berdasarkan keterangan dua sumber Amerika Serikat yang mengetahui isinya.

CIA tidak menanggapi permintaan komentar dari media tersebut.

Penilaian itu menyoroti sejumlah tekanan yang dinilai berpotensi bertemu menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober. Faktor-faktor tersebut mencakup tekanan ekonomi, meningkatnya belanja militer, kemarahan terkait pengecualian wajib militer bagi pria Yahudi ultra-Ortodoks, serta meningkatnya kekerasan oleh pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Mengutip dari Anadolu Agency, Selasa, 6 Oktober 2026, penilaian tersebut juga mengidentifikasi upaya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan sebagai sumber ketegangan politik dan konstitusional lebih lanjut.

Menurut laporan tersebut, bertahun-tahun perang di Gaza, Lebanon, dan Iran telah memperdalam perpecahan yang sudah ada di Israel. Para tentara yang kembali dari pertempuran berkepanjangan disebut banyak mengalami trauma psikologis serius.

Perselisihan mengenai wajib militer menjadi salah satu garis perpecahan internal paling tajam di Israel. Ketegangan meningkat terkait pengecualian bagi pria ultra-Ortodoks, terutama setelah mobilisasi pasukan cadangan berulang kali.

Penilaian tersebut juga menyoroti meningkatnya isolasi internasional Israel, termasuk berkurangnya dukungan di Amerika Serikat, sebagai faktor lain yang dapat memperdalam ketidakstabilan internal.

Menurut laporan Drop Site News, penilaian tersebut secara khusus menggunakan istilah “civil conflict” dalam membahas kemungkinan perkembangan situasi. Namun, laporan tersebut menggambarkan penilaian itu sebagai analisis mengenai risiko dan skenario yang mungkin terjadi, bukan kepastian bahwa konflik sipil atau keruntuhan negara akan terjadi.

Baca juga: Ratusan Warga Israel Kecam Kebijakan Netanyahu dan Reformasi Yudisial

(Willy Haryono)