PM Australia Anthony Albanese. (Anadolu Agency)
PM Australia Desak AS Redakan Perang dengan Iran usai Pemilu Sela
Willy Haryono • 7 November 2026 16:52
Canberra: Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mendesak Amerika Serikat (AS) meredakan konflik dengan Iran setelah Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilu sela AS.
Albanese menyebut hasil pemilu tersebut sangat signifikan dan mengatakan isu itu menjadi salah satu topik utama pembahasan para pemimpin negara dalam Pertemuan Kepala Pemerintahan Persemakmuran (CHOGM), lapor media Australian Broadcasting Corporation (ABC) pada Sabtu, 7 November 2026.
Dalam pemilu sela yang digelar Selasa lalu, Partai Demokrat berhasil menguasai Kongres AS dan memenangkan mayoritas jabatan gubernur di negara tersebut.
Albanese mengatakan para pemimpin yang menghadiri CHOGM menginginkan berakhirnya perang dan dibukanya kembali Selat Hormuz. Menurut dia, kedua hal tersebut berkaitan dengan kepentingan ekonomi global, termasuk pengendalian inflasi dan kelancaran perdagangan internasional.
“Baik terkait inflasi dalam perekonomian global maupun kebutuhan untuk menciptakan kondisi perdagangan bebas, setiap negara [dalam CHOGM] ingin melihat perang berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali,” ujarnya.
Albanese mengaitkan konflik Iran dengan persoalan biaya hidup yang dihadapi masyarakat Australia. Ia mengatakan akan terus menyampaikan kepada Washington pentingnya meredakan ketegangan.
Meski demikian, Albanese menilai dirinya tidak perlu mengambil pendekatan yang lebih keras terhadap Presiden AS Donald Trump.
“Saya telah menyampaikan secara terbuka dan langsung kepada Trump bahwa sudah waktunya untuk meredakan ketegangan,” kata Albanese.
Ia menambahkan masyarakat Australia dapat mengharapkan pemerintahannya terus mengedepankan jalur diplomasi demi kepentingan nasional.
AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari. Gencatan senjata tercapai pada April, kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman pada Juni sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan perdamaian.
Namun, berbagai upaya tersebut belum menghasilkan penyelesaian dan konflik masih berlangsung.
Baca juga: Klaim Kuasai Selat Hormuz, Trump Sebut AS Bisa Jadi Penjajah di Iran