Karhutla Masih Mengkhawatirkan: Respons Fotografer dan Kisah Evakuasi Hewan

Supervisor Medis Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Adisa Prayoga dalam program Meet Nite Live. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV

Karhutla Masih Mengkhawatirkan: Respons Fotografer dan Kisah Evakuasi Hewan

Muhamad Marup • 16 October 2026 23:55

Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sebagian wilayah Indonesia. Dampak kabut asap tidak hanya mengancam manusia, tapi juga hewan-hewan.

Fotografer asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), Dicky Widy, merespons kondisi karhutla dalam karya fotografi. Ia mengungkap inspirasi foto viral 'Napas Tercekik, Empati Terusik yang dipadukan dengan simbol dan pose teatrikal.

"Lahir dan tinggal di Palangka Raya, kabut asap itu sangat dekat dengan kehidupan saya. Saya merasa terpanggil untuk membuat sesuatu dan sebagai fotografer saya merasa punya medium yang saya kuasai untuk mengangkat visual itu agar bisa dilihat banyak orang," ujar Dicky, dalam program Meet Nite Live Metro TV, Jumat, 16 Oktober 2026.


Ia mengatakan, tujuan dari karya foto tersebut untuk menunjukkan pada masyarakat di luar Kalimantan terkait dampak Karhutla. Dengan demikian, dampak karhutla bisa segera ditangani.

"Ini loh yg kami rasakan di Kalteng, mungkin sedikit banyak bisa membantu kami di Kalimantan agar orang-orang di luar sana bisa melihat keadaan kami di sini," jelasnya.

Tema 'Napas Tercekik, Empati Terusik' dipilih karena menggambarkan situasi yang ada di Kalimantan. Seharusnya bernapas merupakan sebuah kebebasan, tapi justru menjadi kekhawatiran.


Di sisi lain, foto juga menjadi medium untuk mempertanyakan kembali terkait karhutla, terutama kepada masyarakat di Kalimantan. Tak sedikit anggapan di masyarakat bahwa karhutla adalah hal biasa.

"Karhutla bukan hal biasa, meski sering terjadi dari tahun ke tahun, tapi bernapas adalah hak manusia," katanya.

Dicky mengaku terganggu dengan dampak karhutla yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, karhutla berdampak pada kesehatan terutama kelompok-kelompok rentan.


"Harapan saya semoga cepat turun hujan. Orang-orang yang beraktivitas di luar bisa kembali bekerja dengan normal. Lansia, balita, bisa kembali normal juga kesehatan tidak seperti sekarang ada yang kena ispa dan lain-lain," ucapnya.


Salah satu karya gotografer asal Palangka Raya, Dicky Widy dalam program Meet Nite Live. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
 

Evakuasi Hewan

Supervisor Medis Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitas Indonesia (YIARI), Adisa Prayoga, mengungkapkan, pihaknya berhasil menyelamatkan 22 satwa terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski begitu, jumlah tersebut hanya sebagian kecil saja.

"Itu hanya ada 22 satwa saja di antaranya lutung, bekantan, trenggiling, kukang. Kenapa saya bilang hanya sebagian kecil," ujar Adisa.


Adisa menyebut, kondisi hewan terdampak beragam. Kebanyakan terdapat luka bakar derajat 1 hingga 2.

Selain itu, lanjutnya, ia juga pernah menemukan bekas gigitan anjing pada orang utan. Lahan terbakar membuat orang utan tersebut masuk ke perkebunan masyarakat sehingga berkelahi dengan anjing.

"Satu kemarin ada gangguan pernapasan, tapi sayangnya kita tidak bisa selamatkan karena kondisinya sudah sangat parah ketika ditemukan," tambahnya.


Selain proses perawatan, Adisa menilai, proses pelepasliaran menjadi tantangan tersendiri. Karhutla yang cukup masif mempersulit penentuan area lokasi yang aman bagi orang utan.

"Kami mencari lokasi yang sesuai karena kebakaran di hutan Ketapang cukup masif sehingga sulit mencari area lokasi yang aman," jelasnya.

8 Orang Utan Terdampak Karhutla Berhasil Dilepasliarkan

Pelepasliaran Orang Utan. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV



Ia memaparkan, sebanyak delapan orang utan terdampak kebakaran hutan dan lahan berhasil dilepasliarkan. Delapan orang utan tersebut dievakuasi dari lokasi berbeda, tapi semua terdampak karhutla.

"8 individu orang utan berhasil dilepasliarkan. Lokasi berbeda-beda tapi semua terdampak karhutla," Katanya.

Ia menjelaskan, selain delapan orang utan, ada juga satu orang utan yang meninggal. Pihaknya tidak bisa menyelamatkan karena kondisi ketika ditemukan sudah sangat parah.


Adisa menyebut, proses pelepasliaran menjadi tantangan tersendiri. Karhutla yang cukup masif mempersulit penentuan area lokasi yang aman bagi orang utan.

"Kami mencari lokasi yang sesuai karena kebakaran di hutan Ketapang cukup masif sehingga sulit mencari area lokasi yang aman," jelasnya.


Adisa menyebut, untuk proses evakuasi pihaknya memiliki tim khusus. Beberapa anggota turun ke area terdampak untuk mencari hewan yang terdampak karhutla.

"Jika memang ditemukan individu orang utan yang butuh evakuasi, kita evakuasi atau membawa ke pusat rehabilitasi kita dulu, baru setelahnya jika kondisi baik, akan kita carikan lokasi untuk dilepasliarkan kembali," katanya

Selain inisiatif tim, pihaknya juga bekerja sama dengan desa-desa di Ketapang, Kalimantan Barat. Setiap hari para mitra akan melaporkan kondisi, termasuk jika menemukan satwa yang terdampak
karhutla.

"Kami bermitra dengan desa-desa di Ketapang. Dari mitra-mitra melaporkan setiap harinya terkait keberadaan satwa di masyarakat," ucapnya.  

(Muhamad Marup)