Managing Director, Technology Advancement Danantara Indonesia Dwi Susanto. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah.
Danantara Identifikasi Empat Tantangan Industri Semikonduktor
Ade Hapsari Lestarini • 21 October 2026 18:36
Jakarta: Danantara Indonesia mengidentifikasi empat persoalan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan industri semikonduktor, mulai dari pelatihan yang tidak terhubung dengan lapangan kerja, keterbatasan akses produksi cip, pembangunan pabrik sebelum adanya permintaan, hingga investasi yang tersebar ke terlalu banyak segmen.
Managing Director, Technology Advancement Danantara Indonesia Dwi Susanto mengatakan setiap investasi Danantara dirancang untuk menjawab persoalan tersebut. Menurut dia, pengelolaan investasi perlu memperhatikan keterhubungan pelatihan dengan pekerjaan, akses terhadap fasilitas produksi, kebutuhan pasar, serta fokus pada bidang yang mampu bersaing secara global.
"Dari setiap investasi Danantara dirancang untuk menjawab, yang pertama adalah pembangunan tanpa pekerjaan. Kedua, cip tanpa politik, merancang cip tanpa keluarga dan tanpa akses ke pabrik. Ketiga, pabrik sebelum permintaan. Keempat, modal yang terlalu besar, berinvestasi terlalu banyak segmen sehingga tidak ada satu pun yang untung di tingkat global," ucap Dwi Santoso dalam acara Peruri Digital Summit 2026, di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
1. Pelatihan harus terhubung dengan lapangan kerja
Dwi Santoso menekankan setiap pelatihan harus terhubung dengan proyek nyata dan lapangan kerja di dalam negeri. Pengembangan talenta perlu diarahkan agar kemampuan yang diperoleh melalui pelatihan dapat diterapkan dalam pekerjaan dan proyek di Indonesia, bukan berhenti pada proses pelatihan.
2. Membuka akses produksi cip
Danantara menggandeng mitra global untuk mendukung pengembangan cip dan akses terhadap fasilitas produksi atau foundry. Ia juga menyinggung kerja sama pengembangan cip atau codevelopment. Akses tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan proses perancangan cip dengan fasilitas yang dapat digunakan untuk produksinya.

Managing Director, Technology Advancement Danantara Indonesia Dwi Susanto. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah.
3. Memastikan produksi sesuai permintaan
Dwi Santoso menyoroti pembangunan pabrik cip yang tidak diikuti permintaan dan kebutuhan lokal. Menurut dia, pembangunan fasilitas produksi perlu mempertimbangkan permintaan agar kapasitas yang tersedia sesuai dengan kebutuhan pasar. Hal ini berkaitan dengan risiko fasilitas yang telah selesai dibangun, tetapi belum didukung kebutuhan lokal yang memadai.
4. Memfokuskan investasi pada bidang tertentu
Investasi perlu difokuskan pada sejumlah bidang hingga mampu bersaing secara global. Dwi Santoso menyoroti risiko investasi yang tersebar ke terlalu banyak segmen sehingga tidak ada yang mencapai keuntungan di tingkat global. Dampak investasi, menurut dia, perlu diukur melalui pertumbuhan talenta, penggantian produk impor, dan kemampuan yang tetap terjaga.
Keempat persoalan tersebut menjadi bagian dari pendekatan yang disampaikan Dwi dalam mengelola investasi industri semikonduktor. Ia menekankan fokus investasi dan pengukuran dampak sebagai pertimbangan dalam menentukan keberlanjutan pengembangan industri berbasis teknologi. (Tiaranissa Juliansyah)