Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com
Indonesia Dinilai tak Akan Turun Kelas Jadi Frontier Market
Eko Nordiansyah • 29 September 2026 22:07
Jakarta: Indonesia dinilai tidak akan mengalami penurunan klasifikasi menjadi frontier market dalam evaluasi MSCI pada November 2026. Ukuran pasar saham, likuiditas, jumlah saham tercatat, hingga kualitas perusahaan Indonesia dinilai jauh berbeda dibandingkan negara yang masuk kategori tersebut.
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Herald van der Linde mengatakan keputusan akhir tetap berada di tangan MSCI. Namun, berdasarkan pandangan sejumlah manajer investasi yang menggunakan MSCI sebagai acuan, Indonesia dinilai bukan merupakan frontier market.
“Kami tidak tahu apa yang akan dilakukan MSCI karena itu merupakan keputusan mereka. Namun, jika saya berbicara dengan manajer investasi yang menggunakan MSCI sebagai acuan, pandangan yang sangat dominan adalah Indonesia bukan frontier market,” kata Herald dalam media briefing HSBC Indonesia di St. Regis Jakarta, Selasa, 29 September 2026.
Menurut Herald, pasar saham Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda apabila dibandingkan dengan negara seperti Bangladesh dan Pakistan.
“Jika Anda membandingkan Indonesia dengan Bangladesh dan Pakistan dari sisi pasar saham, ukuran, likuiditas, jumlah saham yang tercatat, dan kualitas perusahaan, kita berada dalam kondisi yang benar-benar berbeda,” ujar dia.
Baca Juga :
IHSG Diprediksi di Level 6.200 hingga Akhir 2026
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Masalah free float perlu diselesaikan
Dengan kondisi tersebut, Herald memperkirakan MSCI tidak akan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia. Kendati demikian, terdapat persoalan yang masih perlu diselesaikan terkait free float saham.“Jika saya harus mengatakan apa yang akan diputuskan MSCI, saya rasa mereka tidak akan melakukan penurunan klasifikasi. Namun, MSCI juga telah menegaskan mereka perlu mendapatkan gambaran yang lebih baik mengenai persoalan free float,” kata Herald.
Ia menjelaskan persoalan tersebut penting bagi investor asing, khususnya pengelola exchange-traded fund (ETF), karena mereka perlu mendapatkan eksposur terhadap saham tertentu sesuai indeks yang menjadi acuannya.
Permasalahan dapat muncul apabila saham yang seharusnya tersedia tidak dapat dibeli di pasar karena minimnya saham yang diperdagangkan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kesulitan teknis bagi investor.
Herald mengatakan persoalan tersebut saat ini tengah dibahas bersama MSCI. Ia memperkirakan permasalahan terkait free float dapat diselesaikan sebelum keputusan pada November mendatang.
“Dari yang saya pahami, bursa sedang bekerja sama dengan MSCI mengenai persoalan ini. Jadi, saya menduga masalah tersebut akan terselesaikan. Kita akan mengetahui pada November apa yang akan diputuskan MSCI mengenai hal ini,” ujar dia. (Selsha Septifanie Gunawan)